Thursday 23 May 2013

Global Warming: Organisme Laut Terancam

By admin - Thu Apr 21, 5:32 am

 

Terumbu karang merupakan suatu ekosistem di laut yang memiliki peran besar bagi kehidupan organisme laut bahwan kehidupan manusia.  Perubahan iklim global juga akan memberikan dampak langsung terhadap keberadaan ekosistem ini. Menurut Sekretaris eksekutif COREMAP II Prof. Dr. Jamaluddin Jompa  bahwa negara-negara kepulauan harus segera menyusun strategi adaptasi terhadap perubahan iklim global.

Perubahan iklim yang memacu terjadinya pemanasan global (global warming) memiliki dampak yang sangat berbahaya bagi kelangsungan hidup biota laut. Telah terjadi banyak kasus pemutihan karang (coral bleaching). Kasus ini terjadi di seluruh dunia termasuk Indonesia, apalagi Indonesia merupakan pusat keanekaragaman spesies karang. Pemutihan karang ini dipacu oleh naiknya suhu air laut, sehingga organisme zooxantella yang hidup bersimbiosis dengan jaringan hewan karang keluar sehingga karang mengalami kematian.

Selain itu, tingginya kandungan karbon dioksida di udara akan memicu peruhahan derajat keasaman (pH) air laut, sehingga mengganggu metabolisme hewan karang sehingga pertumbuhannya terganggu. Kerusakan karang yang meluas akibat peningkatan suhu air laut akan berimplikasi ke kehidupan organisme lain yang hidup berinteraksi dengan terumbu karang, termasuk ikan yang merupakan komoditas ekonomis bagi manusia.

Lebih lanjut Jamaluddin menyampaikan beberapa hal yang perlu dilakukan oleh semua stake holder dalam rangka adapatasi terhadap perubahan iklim global diantaranya adalah melakukan lobi perjanjian internasional terkait dengan emisi gas yang dihasilkan oleh berbagai aktivitas industri, harus ada kesepakatan untuk bersama-sama menurunkan tingkat emisi gas ini. Disamping itu kebijakan pemerintah lokal juga harus lebih memfokuskan terhadap proses adaptasi ini, misalnya dengan membentuk Marine Protected Area (MPA) dan Coastal Zone Management serta kemitraan dan kerjasama yang baik antara pemerintah pusat dan daerah bahkan antar daerah.

Bahkan menurut Jamaluddin, melalui program COREMAP (Coral Reff Rehabilitation Management Program) telah dilakukan berbagi hal untuk mengantisipasi atau adaptasi terhadap perubahan iklim. Project ini di danai dari bantuan Asian Development Bank dan World Bank. Salah satu program yang sedang dilaksanakan adalah pengelolaan berbasis ekologi secara partisipatif oleh masyarakat di beberapa daerah di Indonesia.

Secara terpisah, Sahala  juga mengatakan “Karang itu merupakan biota laut atau tempat tinggal biota laut yang paling produktif dan paling subur, di situlah tempat hidupnya ikan-ikan. Jika karang ini rusak, maka akan merusak biota itu sendiri, sehingga ikan-ikan pun lama-lama akan habis,” terangnya.

Sahala melanjutkan jika penduduk di bumi ini tidak hati-hati dan benar-benar tidak memerhatikannya, maka bumi ini akan berubah, seperti dicontohkan dengan punahnya Dinosaurus, di mana kepunahannya tersebut disebabkan karena perubahan iklim yang sangat drastis.

“jika ini dibiarkan tentunya akan mengganggu kelangsungan baik biota hutan maupun biota laut, di mana Dinosaurus tersebut tidak tahan karena perubahan iklim di jamannya,” terangnya.Dekan Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (MIPA) Universitas Indonesia Adi Basukriadi menyatakan bahwa berbagai flora fauna dan ekosistem lautan dianggap paling rentan mendapatkan dampak dari perubahan iklim. Konservasi dilakukan bukan hanya mempertahankan jumlah, tapi juga menambah jumlah lahan berkembang biak yang dibutuhkan. Selain juga memperkaya jumlah biodiversitas endemik Indonesia didalamnya. “Saya kira segala jenis tumbuh-tumbuhan dan plankton di laut menjadi bagian dari keanekaragaman hayati tropika yang paling rentan terhadap terjadinya perubahan iklim tersebut”.

Artikel yang ditulis berdasar studi yang dilakukan oleh dua ilmuwan kelautan yang cukup dikenal di dunia, Professor Ove Hoegh-Guldberg dari University of Queensland di Australia dan Dr John F. Bruno, Associate Professor di University of North Carolina, Amerika Serikat, menyebutkan bahwa ada implikasi luar biasa bagi umat manusia akibat dari semakin banyaknya ‘’asap rokok’’ yang harus dihisap bumi.

Professor Ove Hoegh-Guldberg menggambarkan bahwa lautan yang menghasilkan setengah dari oksigen yang ada di bumi dan menyerap 30 persen karbondioksida yang dihasilkan manusia, sama dengan fungsi jantung dan paru-paru dalam tubuh manusia. ‘’Cukup sederhana, bumi tidak akan bisa hidup tanpa lautan,’’ ujarnya. ‘’Studi ini menunjukkan tanda-tanda mengkhawatirkan dari sebuah penyakit. Tampaknya bumi telah merokok dua pak dalam sehari!’’.

Kali ini manusia sedang memasuki masa dimana setiap lautan tempat manusia menggantungkan hidupnya sedang mengalami perubahan besar dan pada beberapa kasus, laut telah mulai mengalami kegagalan fungsinya. Studi yang dilakukan mengidentifikasi adanya perubahan mendasar dan komprehensif dari ekosistem laut, termasuk juga peningkatan temperatur dan keasaman serta sirkulasi arus laut dan meluasnya zona mati di kedalaman laut.

Studi tersebut juga menunjukkan bahwa karang ataupun koral tidak mewakili keseluruhan gambar ekosistem laut yang terkena dampaknya. Permasalahan sebenarnya jauh lebih besar dari hanya sekedar karang. Hal tersebut ditegaskan oleh ahli karang terkemuka dari Institute of Marine Sciences, Australia, John Veron. Sebelumnya karang selalu menjadi obyek penelitian ilmuwan untuk mengetahui dampak perubahan iklim pada ekosistem laut, sehingga memberikan kesan bahwa dampak tersebut hanya masalah karang, bukan pada ekosistem keseluruhan.

Kedua ilmuwan tersebut juga menggarisbawahi bahwa para pemimpin dunia sebaiknya segera mengambil tindakan pencegahan untuk membatasi meningkatnya konsentrasi gas rumah kaca yang tentunya juga mengurangi resiko terjadinya kegagalan fungsi laut lebih jauh. Mereka juga menegaskan bahwa pengabaian hal tersebut bukanlah sebuah opsi. Mantan Kepala Badan Riset Kelautan dan Perikanan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) Gelwin Yusuf mengatakan, perubahan iklim yang terjadi belakangan ini berdampak pada penurunan hasil tangkapan perikanan.

“Aspek penting dampak perubahan iklim adalah tekanan terhadap ketahanan pangan, antara lain perubahan keseimbangan komposisi jenis hasil tangkapan,” kata Gelwin di Jakarta, baru-baru ini. Menurut dia, fenomena La Nina yang mengakibatkan kemarau basah di Indonesia berlangsung hingga akhir 2010 atau awal 2011 akan memperparah penurunan produksi lemu-ru, seperti terjadi di Selat Bali. Penurunan itu, kata dia, mencapai 24% dibanding 2009 atau sebanyak 17% dalam 25 tahun terakhir. ”Selain itu, perubahan iklim menurunkan produksi ikan rawa banjiran di perairan Indonesia sebesar 5% dalam jangka waktu 13 tahun terakhir,” paparnya.Gelwin menuturkan, perubahan iklim juga berpotensi mengubah komposisi jenis hasil tangkapan. Di perairan Atlantik misalnya, hasil tangkapan semakin berubah dari jenis spesies de-mersal menjadi pelagis. “perubahan iklim juga bisa, mengakibatkan semakin berubahnya hasil tangkapan binatang laut dari jenis vertebrata (hewan bertulang belakang) menjadi inverte-brata (hewan tidak bertulang belakang).”

 

12 Comments

Comments 1 - 12 of 12First« PrevNext »Last
  1. 0

    Actually one of many challenges which individuals beginning a new on-line firm face is that of acquiring visitors to their internet site.

  2. 0

    Just desire to say your article is as astounding.The clearness in your post is simply great and i could assume you’re an expert on this subject.Well with your permission allow me to grab your RSS feed to keep up to date with forthcoming post.Thanks a million and please carry on the rewarding work

  3. 0

    Pengotoran udara didunia ini adalah lain tidak adalah ulah tingkah negara-negara industri. AS sebagai contoh tenaga listriknya 50 % dari pembakaran batubara. Sisanya dari Hydro-electric,PLTN dan minyak (Diesel). Belum lagi Eropah, Russia, Jepang, Korea dan Cina. Padahal setiap rumah di AS ada listrik. Tak ada giliran pemadaman listrik seperti di kita. Bayangkan tenaga yang diperlukan untuk keperluan ini. Belum lagi tenaga listrik untuk dipakai sebagai penerangan jalanan, lampu lalu-lintas. Bayangkan di New York City saja, lampu lalau lintas berjumlah jutaan. Hampir setiap perempatan di kota ini ada lampu lalu-lintas, bukan hanya satu sampai tiga buah.

    Yang disebut diatas belum seberapa dibandingkan dengan “pengotoran Udara” yang disebabkan oleh kapal-kapal Peti Kemas Raksasa seperti Emma Maersk, satu kapalmengotori udara sama dengan pengotoran udara dari jumlah 50 juta kendaraan per tahunnya.
    Dikabarkan bahwa dalam tahun 2013 mendatang akan mulai dioperasikan kapal-kapal peti kemas raksasa yang lebih besar daya angkutnya dari Emma Maersk. Kapal-kapal raksasa yang baru ini dinamai “Triple – E” Class. Direncanakan akan dibangun sejumlah 30 kapal dalam tahun-tahun berikutnya.

    Bila kapal-kapal “Triple-E” Class mulai dioperasikan berarti akan ada penambahan baru dalam pengotorn udara 30 kali lipat. Kita ambil saja bahwaa kapal “Triple-E” ini bermesin induk hampir sama dengan mesin induk Emma Maersk.

    Route dari kapal-kapal petikemas raksasa ini ialah dari Cina melalui Laut Cina Selatan, lewat Selat Sunda, memotong Samudra Hindia tentunya tidak jauh dari Sri Langka menuju ke Suez Canal, lautan Mediterranean, Samudra Atlantic. Route kapal-kapal peti kemas raksasa ini boleh dikatakan tidak jauh dari pantai-pantai negara dunia ketiga. Dikabarkan bahwa “pengotoran udara” yang disebabkan oleh pembuangan CO2 keudara menyebabkan penyakit “Cancer-Asthma”.

    . Dengan “ulah tingkah negara industri dalam memajukaan perdagangannya” yaitu dengan membangun kapal-kapal raksasa, juga mereka harus bertanggung jawab akan akibat dari “kemajuan” dunia perkapalannya. Dampak berupa penyakit Cancer- Asthma ini, seharusnya mereka harus ikut menanggung dalam mengatasinya.. .

    Pemerintah Indonesia sewajarnya harus memulai dalam menggalang kekuatan dari negara-negara berkembang untuk mencari jalan keluarnya. Daerah=daerah pesisir sepanjang Laut Cina Selatan, Selat Sunda sampai ke Samudra Hindia akan merasakan dampak dari pengotoran udara oleh kapal-kapal peti kemas raksasa yang dipelopori oleh Maersk Line ini. Wajar kalau negara-negara Asean mulai buka suara. Setidka-tidaknya mengusulkan agar Badan Dunia (PBB) untuk melakukan riset yang mendalam akan besarnya dampak dari pengotoran udara oleh kapal-kapal peti kemas raksasa ini. Untuk generasi sekarang dan generasi-generasi penerus.

    Juga untuk menanggulangi penyebaran penyakit “Cancer-Asthma”, negara-negara Industri terutama yang mengoperasikan kapal-kapal petikemas raksasa HARUS ikut bertanggung jawab. Umpamanya dalam pengumpulan dana untuk pembelian obat-obatan,perawatan yang sakit atau mengirirm Team Kesehatan kenegara-negara yang sepanjang pantai lautan yang dilayari kepal-kapal petikemas raksasa ini.
    Ristek yang mendalam yang diutamakan adalah yang mengakibatkan penyakit kepada manusia serta dipikirkan pencegahannya Kalau soal plankton dsbnya itu soal kedua.

    Atau mendesak negara-negara seperti Cina/Russia/Eropah Timur untuk menjajagi pembangunan rel kereta api barang dari Shanghai ke Amsterdam, untuk mengurangi pengotoranudara oleh kapal-kapal petikemas raksasa.

    ==sn==

  4. 0

    you are really a good webmaster.The site loading speed is incredible.It seems that you are doing any unique trick.In addition, The contents are masterwork.you have done a wonderful job on this topic!

  5. 0

    I’m so happy to read this.This is the kind of manual that needs to be given and not the random misinformation that is at the other blogs.Appreciate your sharing this greatest doc

  6. 0

    I’m still learning from you, but I’m improving myself. I definitely love reading every little thing that’s written in your blog.Hold the tales coming. I loved it!

  7. 0

    It is the best time to make some plans for the future and it is time to be happy.I’ve read this post and if I could I wish to suggest you some interesting things or tips.Maybe you could write next articles referring to this article.I desire to read more things about it!

  8. 0

    I’ve recently started a site, the information you provide on this site has helped me greatly.Thank you for all of your time & work

    1. 0

      thx too for coming,, I hope this article useful for u

  9. 0

    Tres intiresno, gracias

  10. 0

    Good insight with the great posting. I am glad I’ve got taken some time to match this out.

  11. 0

    I do not even know how I ended up right here, however I thought this publish was good. I do not recognize who you might be however certainly you are going to a famous blogger if you are not already. Cheers!

  12. 0

    I got what you think, thanks for putting up. Woh I am glad to perceive this website through google. Thanks For Share Global Warming: Organisme Laut Terancam | Indonesia Maritime Institute.

Comments 1 - 12 of 12First« PrevNext »Last

Leave a Reply