Monday 20 May 2013

IMI Goes to UNPAD: Ekonomi Maritim Pilar Bangsa

By Redaksi - Wed Apr 18, 3:37 am

Pembangunan yang berbasiskan ekonomi maritim akan memberikan tambahan besar pada pertumbuhan ekonomi Indonesia khususnya menghadapi tantangan di era perdagangan bebas. Selama ini pembangunan masih berorientasi ke daratan dan cenderung melupakan potensi ekonomi maritim. Itulah yang menyebabkan Indonesia belum mampu menjadi ‘macan Asia.’

Demikian disampaikan Direktur Eksekutif Indonesia Maritime Institute  (IMI)  Dr. Y Pangoanan dalam pembukaan seminar nasional tentang ekonomi maritim sebagai pilar kejayaan bangsa, di Kampus Universitas Padjajaran, Jatinangor, Jawa Barat, Selasa (20/03).

Seminar yang merupakan rangkaian program “IMI Goes to Campus” , kali ini, IMI bekerja sama dengan FPIK Universitas Padjajaran dan Himatekindo (Himpunan Mahasiswa Teknologi Kelautan Indonesia).

“Selama ini pembangunan Indonesia  masih berorientasi daratan dan cenderung melupakan potensi ekonomi maritim, maka Indonesia belum mampu menjadi ‘macan Asia’,” katanya dalam seminar yang diikuti ratusan mahasiswa FPIK Unpad tersebut.

Sementara Dewan Pembina IMI, Dr Connie Rahakundini Bakrie yang tampil mengawali, menyoroti sistem pertahanan maritim Indonesia sebagai salah satu upaya mempertahankan kedaulatan ekonomi nasional. “Tanpa kekuatan milter yang kokoh, mustahil dapat menjaga kedaulatan ekonomi maritim Indonesia, ” katanya seraya memperlihatkan perbandingan betapa kecilnya kekuatan militer Indonesia, khususnya matra laut dan udara dibanding dengan kekuatan militer negara-negara di kawasan Asia dan dunia.

Connie mengingatkan, betapa pentingnya bangsa Indonesia untuk sadar pertahanan, sehingga masyarakat tidak melihat laut  sebagai sesuatu permukaan yang kosong, sebab di dalam laut terdapat kekayaan alam Indonesia yang melimpah, juga ada kekuatan militer banyak negara, termasuk Indonesia.

“Tatkala masyarakat Indonesia sudah sadar pertahanan bangsa, maka konsep pertahanan dengan penguatan Angkatan Udara dan Angkatan Laut haruslah menjadi prioritas utama sebab itulah yang sesuai dengan karakteristik Indonesia,” katanya.

Sementara itu, Ir M Eko Rudianto, Direktur Pesisir dan Lautan Kementerian Perikanan dan Kelautan menyoroti potensi ekonomi maritim yang begitu besar terutama pariwisata bahari, terumbu karang dan kekayaan sumberdaya ikan didalamnya.

Oleh sebab itu, katanya, penting keberpihakan pemerintah, investasi swasta dan menyisakan kawasan untuk konservasi dalam membangkitkan ekonomi maritim.

Pada acara tersebut, Guru Besar Ilmu Kelautan IPB, Prof Dietriech G Bengen, DEA menyoroti pentingnya pengelolaan wilayah pesisir termasuk desa-desa pesisir dan pulau terdepan sebagai halaman depan Indonesia.

Oleh karena itu, sangat penting dilakukan penguatan ekonomi di pulau-pulau terdepan sebagai  bentuk komitmen republik ini terhadap Negara Kesatuan Repubik Indonesia (NKRI).

Peneliti LIPI Jaleswari Pramodharuardani yang tampil memukau mengatakan, dalam membangun ekonomi maritim sebagai pilar kejayaan bangsa diperlukan kebajikan kelautan yang konkret.  “Ocean Policy” yang akan selesai pada tanggal 17 Agustus 2012 seyogyanya mampu menjawab tantangan apa yang harus dilakukan Indonesia dalam berbagai perubahan dunia untuk merumuskan pembangunan berbasiskan maritim.

Dalam pemaparan terakhir Kepala Laboratorium Bisnis dan ekonomi FPIK Unpad Dr Ir Iwang Gumilar memaparkan terkait realita di lapangan bahwa seringkali bangsa Indonesia bagus dalam konsep, tetap lemah dalam implementasi. Karena itu, perlu adanya dorongan agar semua pihak memiliki kesadaran dan kesungguhan dalam mengembangkan ekonomi maritim sebagai pilar kejayaan bangsa.

Leave a Reply