Teluk Jakarta, Merintih Tertindih Polutan
By admin - Mon Oct 03, 2:39 am
- 2 Comments
- 19 views
- Tweet
Email
Print
RIBUAN jenis ikan mati terdampar di bibir pantai Tarumajaya, Kabupaten Bekasi. Ikan-ikan itu mati akibat zat kimia pabrik industri yang membuang limbah ke laut. Pencemaran di laut akibat adanya pembuangan limbah industri dari wilayah Jakarta dan Bekasi. Tentu saja pemandangan itu sangat mengerikan dan mengkhawatirkan bagi nelayan, karena sudah tiga bulan para nelayan pesisir Jakarta berkurang hasil tangkapannya.
“Nelayan sendiri tahu kalau ada pencemaran, ya dari banyaknya ikan yang mati. Kalau sudah begitu biasanya kita nggak melaut, kita sibuk mungutin ikan karena baunya busuk menyengat. LSM Wahana Lingkunga Hidup (Walhi) sudah mengecek kadar pencemaran laut di Teluk Jakarta, hasil penelitian air luat sudah tercemar limbah industri,” ujar Zainal, salah satu nelayan di Bekasi.
Berdasarkan pemantauan sepanjang Teluk Jakarta terdapat banyak kawasan industri yang berpotensi melakukan pencemaran. Wilayah-wilayah itu adalah Kawasan Berikat Nusantara Cilincing Jakarta Utara, Kawasan Industri Pulo Gadung Jakarta Timur, Pabrik minyak goreng di Taruma Jaya dan beberapa pabrik lain di wilayah utara Kabupaten Bekasi.
“Nelayan di sini sih inginnya Pemerintah Kabupaten Bekasi turun langsung ke lapangan, kalau nggak bisa ngecek pencemaran, ya nelayan di kasih pelatihan keterampilan selain menjadi nelayan. Soalnya kita tidak punya keahlian lain selain melaut,” tutur Zainal.
Kepala Badan Pengelola Lingkungan Hidup Daerah (BPLHD) Jakarta Utara Iswardi, menuturkan buruknya pelaku industri dalam membuat Rencana Kelola Lingkungan (RKL) dan Rencana Penataan Lingkungan (RPL) ikut menambah pencemaran di Teluk Jakarta. Pencemaran tidak akan terjadi kalau pelaku industri membuat RKL serta RPL dengan baik. Teluk Jakarta semakin parah setelah menanggung beban sampah yang besar setiap hari.
“Dari 13 muara sungai yang bermuara di Teluk Jakarta, setiap hari menumpuk 161 ton sampah yang memenuhi area seluas 514 km2. Tercatat ada 161 ton sampah yang berasal dari 13 muara sungai mengalir ke Teluk Jakarta perharinya,” katanya.
Berdasarkan data yang ada, saat ini Teluk Jakarta dipenuhi sampah hingga 161 ton per hari yang memenuhi area seluas 514 km2. Kadar COD (Chemical Oxygen Demand) dan BOD (Biological Oxygen Demand) juga masih tinggi. Selain cara sembunyi, ada industri yang menggelontorkan limbahnya langsung ke laut.
Menuru Iswardi, sistem pengelolaan limbah yang dilakukan para pelaku industri belum baik dan belum dilakukan dengan benar. Ia mengatakan hal itu bisa dibuktikan melalui data terakhir hasil pengamatan dan pemantauan yang dilakukan BPLHD Jakarta Utara bahwa kadar COD dan BOD yang mencemari Teluk Jakarta masih tinggi.
“Nah, itu kan bukti masih adanya pabrik atau industri yang membuang limbah sampah maupun limbah cair ke sungai. Tentu akan mengalir dari hulu hingga ke hilir laut. Cuma, kami ini tidak berhak melakukan penindakan karena wewenang tersebut masih satu pintu yaitu BPLHD DKI,” ujarnya.
Ia mengatakan, dalam mengawasi pelaku industri semua menjadi wewenang BPLHD DKI Jakarta. Ia mencontohkan, ketika pelaku industri menyusun RKL serta RPL mereka harus melaporkannya ke BPLHD DKI Jakarta dan laporan itu disebut laporan implementasi. Laporan tentang limbah cair pihak perusahaan harus melaporkannya setiap tiga bulan sekali namun untuk limbah udara setiap enam bulan sekali.
Sementara itu, Direktur Eksekutif Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) Berry N Furqon menilai Pemerintah DKI Jakarta tidak serius menangani masalah pencemaran limbah di Teluk Jakarta. Pasalnya, hingga kini Pemprov tidak memiliki pola penanganan yang jelas, cenderung parsial, sama seperti tahun-tahun sebelumnya.
“Sehingga sampah atau limbah menumpuk dan mencemari Teluk Jakarta, sehingga mengancam kehidupan nelayan di pesisir Jakarta,” tegas Berry.
Dia menjelaskan, kegagalan kerja sama dalam mengelola sampah tersebut akan mengancam sungai di Jakarta semakin lebih parah kondisinya. Selain itu, sampah yang mencemari sungai maupun yang tak terangkat atau terkelola dengan baik itu, akan mengganggu kesehatan warga di sekitar. “Termasuk akan menambah beban TPA (Tempat Pembuangan Akhir) Bantargebang dan Jatiwaringin,” ucapnya.
Menurutnya, pencemaran sungai dan limbah di Teluk Jakarta, sudah merusak Cagar Alam Muara Angke sampai Kepulauan Seribu dan berbagai persoalan lain, harus dilihat dan ditangani menyeluruh dari bencana ekologis akut yang telah terjadi di pantai dan Teluk Jakarta.
“Pemprov menutup mata dan melindungi keberadaan sekitar 800 buah pabrik dan industri di sepanjang pesisir Pantai Teluk Jakarta, dan ratusan lainnya di bantaran 13 sungai,” sindir Berry.
Pabrik-pabrik ini diduga berindikasi kuat tidak mempunyai AMDAL (Analisis Mengenai Dampak Lingkungan) dan atau tidak taat Amdal. Kalaupun ada, hanya sekadar formalitas dan tidak diimplementasikan secara baik.
“Buktinya, warga di sekitar pabrik tidak pernah mendapat in-loruwsi akan keberadaan dan kegiatan pabrik.” ujarnya.
Kendati demikian, lanjut Berry, secara kasat mata pabrik dan industri itu dalam membuang limbah tidak menggunakan sistem Instalasi Pembuangan Air Limbah (IPAL). Hal ini dapat dilihat dari buruknya kondisi air buangan yang ada di sekitar pabrik-pabrik tersebut.
“Walhi Jakarta melihat persoalan limbah industri inilah yang perlu penanganan segera. Karena kualitas pencemarannya sangat tinggi, termasuk kategori limbah balian beracun berbahaya (B3). Dan korban yang disebabkannya sudah begitu banyak dan sering terjadi,” imbuhnya.
Predikat Teluk Jakarta Perairan Terkotor Sedunia
PERAIRAN Teluk Jakarta termasuk paling kotor di dunia. Penyebab kekotoran ini sebagian besar atau sekitar 80 persen berasal dari daratan, terutama akibat sampah dan limbah cair yang mengalir melalui 13 sungai ke teluk. Pencemaran yang berasal dari daratan atau land-based pollution menyumbang 80 persen terhadap pencemaran perairan teluk, baik akibat bahan organik, bahan berbahaya dan beracun (B3), seperti logam dan pestisida, pencemaran minyak dan sedimen, pencemaran organisme patogen dan eksotik, serta detergen.
“Pencemaran di Teluk Jakarta telah membuat kehidupan kami makin sulit. Akibat pencemaran dan reklamasi, frekuensi melaut berkurang drastis. Kondisi ini membikin kelangsungan hidup nelayan Teluk Jakarta kian jauh dari sehat dan sejahtera.
Bahkan, pada tahun 2005, salah seorang nelayan Teluk Jakarta meninggal dunia setelah terkontamisnasiatau terpapar oleh pencemaran air dari teluk,” ujar Tiarom, nelayan tradisional asal Marunda, Jakarta Utara, yang tergabung dalam Kesatuan Nelayan Tradisional Indonesia (KNTI).
Teluk Jakarta terletak di antara Tanjung Karawang di sebelah timur dan Tanjung Pasir di sebelah barat. Teluk seluas 285 km2, dengan garis pantai sepanjang 33 km dan rata-rata kedalaman perairan 8,4 m adalah ruang yang menjadi mata pencaharian masyarakat nelayan.
“Dari Teluk Jakarta, kami dapat menyekolahkan anak dan memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Namun, sejak reklamasi dan revitalisasi Pantai Jakarta pada tahun 1995, lambat laun banyak perubahan buruk kami rasakan. Mulai jarangnya kami melaut, bangkrutnya usaha budidayakerang yang kami kembangkan, hingga berkurangnya jenis ikan di perairan Teluk Jakarta,” kata Tiarom.
Tingginya dampak bawaan pencemaran dan reklamasi Pantai Jakarta terhadap keberlanjutan ekosistem laut dan sumber daya yang dikandungnya serta keberlangsungan hidup nelayan Teluk Jakarta mendesak langkah konkret dari Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) dan Dinas Peternakan, Perikanan, dan Kelautan Provinsi DKI Jakarta.
“Mengingat luasnya dampak pencemaran dan reklamasi, sudah saatnya KLH melakukan upaya-upaya perbaikan atas kondisi lingkungan hidup secara lebih serius dan konsisten di Teluk Jakarta dan sekitarnya,” imbuhnya.
Sebanyak 13 sungai besar yang bermuara ke Teluk Jakarta mulai dari Sungai Kamal hingga Cakung memiliki andil. Mereka menjadi saluran limbah gratis bagi sekitar 20 juta warga Jakarta , Bogor , Tangerang, dan Bekasi. Ditambah pula sekitar 1.600 perusahaan yang juga menggelontorkan limbah cairnya ke sungai.
Menurut data resmi Badan Pengelolaan Lingkungan Hidup Daerah (BPLHD) Jakarta, disebutkan bahwa perairan Teluk Jakarta sudah tak layak lagi untuk wisata bahari dan kehidupan biota laut. Alasannya, Teluk Jakarta tercemar kandungan nitrat, amoniak, dan fosfat sudah melebihi ambang batas. Bahkan pencemaran sudah mencapai Kepulauan Seribu.
Selain membahayakan biota laut, sampah-sampah padat itu juga dapat membahayakan arus lalu lintas kapal laut. Untuk mengatasi masalah sampah ini, PT Pelindo II telah mengoperasikan 12 kapal dan perahu untuk menjaring sampah di sepanjang pantai yang ada di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta Utara.
Begitu juga Sampah di Pelabuhan Muara Angke, Jakarta Utara, tak sekedar berserakan tapi teronggok-onggok tidak karuan. Tidak hanya di daratan, tapi juga sampai banyak yang berenang-renang di dalam air. Limbah dari industri juga membuat warna air laut menjadi hitam. Dalam perjalanan dari Pelabuhan Muara Angke menuju Pulau Pari, Kepulauan Seribu, bau sampah dan limbah sangat menyengat hidung. Semakin ke tengah, air terlihat cokelat, terus hijau, dan baru menemukan air yang jernih kebiruan ketika hampir mendekati Pulau Pari.
Menurut catatan, dalam kurun 10 tahun terakhir ini di kedua kawasan tersebut memikul beban polusi akibat banyaknya sampah dan limbah yang 90 persennya berasal dari Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi.Setiap hari tidak kurang dari 14 ribu meter kubik sampah masuk ke kedua wilayah perairan diserambi DKI Jakarta itu. Akibatnya, Teluk Jakarta dan Kepulauan Seribu kini mirip tempat pembuangan sampah raksasa.
Sumber pencemaran, selain berasal dari sampah umum, juga akibat kegiatan pembuangan minyak dari perusahaan pengeboran lepas pantai serta kapal-kapal tanker. Dari pantauan kawasan Teluk Jakarta dan Pulau Seribu memerlukan penyelamatan segera jika tidak ingin masyarakat dan lingkungan di sekitarnya hancur. Pencemaran itu mengakibatkan terancamnya potensi pengembangan pariwisata di Kepulauan Seribu. Dampaknya sudah mulai dirasakan oleh masyarakat.
- 2 Comments
- 19 views
- Tweet
Email
Print




(4.67 out of 5)
Belum lagi persoalan limbah dan sampah yang dihasilkan sehingga bisa dipastikan akan menambah beban lingkungan yang makin menumpuk.
I feel this is among the most significant information for me. And i am glad reading your article. But wanna commentary on some common things, The website taste is perfect, the articles is in reality nice. Good process, Cheers!