Sunday 19 May 2013

FPIK-IPB:Mencetak Ilmuwan Maritim Profesional

By admin - Tue May 31, 4:14 am

 

DENGAN rentang usia yang cukup lama dan  panjang, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK) Institut Pertanian Bogor (IPB) telah banyak capaian atau prestasi yang di raih. Tidak jarang prestasi yang tergolong spektakuler. Sehingga FPIK menjadi fakultas perikanan dan kelautan terbasar di Indonesia.

FPIK IPB sendiri saat ini menjadi barometer bagi para siswa-siswi yang ingin mengenal jauh tentang dunia perikanan dan kelautan.  Ditunjang dengan sumber daya (SDM) yang kuat, dimana tenaga dosen yang berkualifikasi mulai dari doktor sampai professor, sehingga menjadikan FPIK ini mempunyai kulitas yang tak tertandingi.

“Kita selalu menjaga mutu dan kualitas dari tenaga pengajar kami, sehingga kualitas dari FPIK sendiri bisa terjaga. Dengan luasan kurang lebih empat puluh ribu meter persegi, tentunya menjadikan FPIK sebagai fakultas terbesar di Indonesia,” kata Dekan FPIK, Indra Jaya kepada Indonesia Maritime Magazine.

Dijelaskan selanjutnya mengenai sejarah berdirinya FPIK, dimana FPIK sendiri didirikan pada tanggal 1 September 1963 dengan nama Fakultas Perikanan, beridirnya fakultas itu bersamaan dengan berdirinya Institut Pertanian Bogor (IPB).

“Perintisan untuk mendirikan Fakultas Perikanan dimulai sejak tahun 1953 hingga 1958 melalui pembentukan Tim Persiapan Fakultas Perikanan di Universitas Indonesia (UI). Pada tahun 1960 dibuka jurusan Perikanan Laut di bawah Fakultas Kedokteran Hewan, Peternakan dan Perikanan Laut, kemudian pada tahun 1961 dibuka Jurusan Perikanan Darat di bawah Fakultas Pertanian UI, pada tahun 1963, Fakultas Pertanian dan Fakultas Kedokteran Hewan, Peternakan dan Perikanan Laut UI memisahkan diri dari UI dan Membantuk Institut Pertanian Bogor (IPB) yang terdiri dari empat fakultas yaitu Fakultas Pertanian, Fakultas Kedokteran Hewan, Fakultas Perikanan dan Fakultas Peternakan,” tegasnya.

Visi dari FPIK sendiri yaitu menjadikan pusat unggulan unggulan berkualitas internasional dalam pengembangan dan penerapan ilmu pengetahuan, teknologi, manajemen dan kebijakan dalam bidang perikanan dan kelautan.Agar visi tersebut dapat terwujud, Indra mengatakan misi yang diemban oleh FPIK adalah Menyiapkan organisasi FPIK menuju organisasi berkualitas internasional melalui konsolidasi dan perbaikan sistem organisasi (termasuk peningkatan kesejahteraan dan kemudahan-kemudahan dalam mencapai karir) dan pengembangan SDM. Mewujudkan suasana akademik yang kondusif bagi proses pembelajaran dan pengembangan (riset) ilmu pengetahuan, teknologi, manajemen dan kebijakan di bidang perikanan dan kelautan. Memperluas tanggung jawab sosial institusi FPIK kepada pemerintah pusat, daerah dan masyarakat luas.

“Mempererat hubungan FPIK dengan alumninya, pemerintah daerah dan lembaga internasional terus memperkuat institusi dan kompetensi FPIK untuk menjamin kemajuan dan keberlanjutan,” urainnya.

Sementara itu untuk tujuan yang akan dicapai Indra mengatakan bahwa bisa terselenggaranya proses menuju organisasi berkualitas internasaional, tidak hanya itu, untuk meningkatkan suasana kondusif, yang ditandai dengan meningkatnya mutu akademik mahasiswa, produktivitas staf akademik atau pengajar dan staf penunjang. Meningkatnya kesadaran publik akan arti penting pendidikan dan pembangunan perikanan dan kelautan.

“Tujuan lainnya yaitu, terjalinnya hubungan erat dan produkti fantara FPIK dengan alumni, pemerintah daerah dan lembaga-lembaga internasional. Terwujudnya manajemen dan organisasi FPIK yang matang dan profesional, sehingga institusi FPIK kuat menghadapi tuntutan lokal (nasional) dan tampil percaya diri (kompeten) terhadap tekanan globalisasi (tekanan internasional),” ujarnya.

Sebagai salah satu fakultas terkemuka dari perguruan tinggi tertua di Indonesia FPIK semakin yakin akan kemajuan untuk mewujudkan visi, misi dan tujuan dalam rangka mencapai IPTEKS yang di akui di dunia. Keyakinan ini didukung dengan adanya berbagai akar keilmuan fakultas. Program sarjana di fakultas ini dapat ditempuh dalam waktu 4 tahun yang terbagi dalam 8 semester dengan minimum kredit 144 sks. Adapun program pascasarjana Master (S2) dengan masa studi 2 tahun, sedang masa studi program Doktor (S3) adalah 3 tahun.

“FPIK sendiri memiliki 5 departemen yang mengasuh program sarjana dan pascasarjana, dalam bidang perikanan dan kelautan, diantaranya Departemen Budidaya Perairan (BDP), Departemen Manajemen Sumberdaya Perairan (MSP), Departemen Teknologi Hasil Perairan (THP), Departemen Pemanfaatan Sumberdaya Perikanan (PSP) dan Depar­te­men Ilmu dan Teknologi Keluatan (ITK),”

FPIK yang diresmikan pada tahun 1988 oleh Presiden RI berbarengan dengan peresmian Fakultas Peternakan, menurut Indra fakultas ini juga sudah di lengkapi dengan berbagai fasilitas pendidikan seperti laboratorium, kolam penelitian, stasiun lapang kelautan (SLK) palabuhanratu, pusat studi ilmu kelautan (PSIK) Ancol. “Program wisata bahari banyak dilakukan mahasiswa dalam aktifitas fakultas ini, selain itu banyak sudah produk ikan yang telah dikembangkan seperti bakso ikan. Sosis, fillet, tepung, kue, dan berbagai produk olahan lainnya,” tandas Indra Jaya.

 

Langganan Medali Emas

Kualitas pendidikan di Institute Pertanian Bogor, khususnya di Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK) tentunya tidak bisa diragukan lagi. Pasalnya, mahasiswa FPIK selalu membuat prestasi yang cukup membanggakan. Dikatakan oleh Dekan FPIK, Indra Jaya bahwa ditingkat nasional, setiap tahun mahasiswa FPIK-IPB aktif mengikuti PIMNAS (Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional) yang diselenggarakan oleh Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi-DIKNAS.

“Dan setiap tahun pula, diajang adu nalar dan prestasi yang bergengsi ini, mahasiswa kami selalu mendapatkan Medali Emas. Prestasi ini tentu sangat membanggakan karena mahasiswa Perikanan dan Ilmu Kelautan IPB juga terbukti kompetitif dan sejajar dengan mahasiswa dari bidang lain,” kata Indra Jaya.

Prestasi lainnya yang menonjol adalah sebagai Mahasiswa Berprestasi Tingkat Nasional (Juara 1, tahun 2007), Penulisan Ilmiah pada Pelayaran Kebangsaan (Juara 1). Tidak hanya itu, mahasiswa FPIK juga berprestasi di tingkat internasional. Misalnya, pada Bayer Young Environmental Envoy. “Beberapa mahasiswa kami aktif dalam pertukaran mahasiswa (student exchange) dan melakukan tugas akhirnya di perguruan tinggi luar negeri, seperti di Ryukyu Univ di Okinawa Jepang, dan aktif menghadiri konferensi internasional, misalnya  International Youth Conference, TUNZA di Korea Selatan belum lama ini,” terangnya.

Berkaca pada mahasiswa Undip yang melakukan kuliah di dasar laut, Indra mengaku salut, tapi bukan berarti FPIK akan meniru, karena memang mahasiswa FPIK sendiri sudah melakukan praktikum yang dilakukan di dasar laut. “Misalnya pada mata kuliah Selam Ilmiah (scientific diving) dan mata kuliah Observasi Bawah Air. Informasi yang dapat kami sampaikan adalah untuk kegiatan pengamatan bawah-air mahasiswa kami secara rutin melakukan ekspedisi ke pelosok-pelosok nusantara yang kami namakan Ekspedisi Zooxanthellae,” Indra menjelaskan.

Ekspedisi tahun 2011 lanjutnya, merupakan ekspedisi ke-11, baru saja dilakukan adalah di Kepulauan Guraici Kayoa – Halmahera Selatan. Hasil ekspedisi ini disiarkan oleh Metro TV di program Metro eXpedition pada Sabtu 19 Maret 2011, jam 13.30.

Soal  lain, mengenai minat lulusan SMA yang sangat minim untuk kuliah mengenai perikanan dan kelautan, Indra mengatakan bahwa minat lulusan SMA untuk kuliah dan memperdalam bidang-bidang ilmu perikanan bervariasi, ada bidang ilmu perikanan yang peminatnya cukup tinggi dan kompetitif seperti perikanan budidaya atau akuakultur, sementara untuk bidang perikanan tangkap, manajemen perikanan, dan teknologi hasil perikanan peminatnya memang cenderung menurun dari waktu ke waktu.

“Tetapi tetap di atas jumlah kuota atau daya tampung kami. Untuk ilmu kelautan peminatnya banyak dan cenderung tetap tinggi dari waktu ke waktu. Itu pengalaman kami di IPB. Untuk meningkatkan rasio peminat terhadap daya tampung yang ada, IPB aktif melakukan promosi dan sosialisasi, baik secara langsung maupun tak langsung, melalui berbagai media cetak maupun elektronik, dan yang tidak kalah pentingnya adalah meminta bantuan mahasiswa-mahasiwa kami sewaktu mereka liburan (pulang kampung) untuk menjelaskan IPB secara utuh ke adik-adik kelas mereka di SMA asal,” ujarnya.

Indra menjelaskan bahwa IPB, adalah universitas nasional, dimana mahasiswanya berasal dari seluruh pelosok nusantara, dan bidang ilmu yang ditawarkan sejak IPB berdiri tidak hanya pertanian tetapi juga ada ilmu Perikanan dan Kelautan. Secara keseluruhan ada kemajuan yang dicapai, walaupun tidak secepat, sebesar dan sejauh yang mungkin diharapkan. Mestinya capaian kita bisa lebih hebat lagi dari apa yang sudah kita capai saat ini sekiranya ada dukungan yang memadai.

Diakhir perbincangannya, Indra mengaku bahwa sudah saatnya pemerintah melalui DIKTI-DIKNAS secara sungguh-sungguh melakukan investasi jangka panjang di bidang pengembangan SDM kelautan melalui pengadaan kapal-kapal latih dan penyediaan anggaran operasional tahunan.

“Untuk kapal latih, tidak perlu berukuran besar, cukup yang berukuran 50 GT dan dilengkapi dengan peralatan standar. Adapun untuk keperluan kegiatan penelitian dapat dilakukan melalui optimalisasi kapal penelitian yang ada, atau mungkin dengan menambah 2 atau 3 kapal riset, sudah mencukupi kebutuhan pendidikan kita,” pungkasnya.

 

Leave a Reply