09:35 am - Monday 21 April 2014

Polusi Ancam Lautan

By Redaksi - Wed Oct 17, 5:14 am

 

Polusi atau pencemaran lingkungan tidak hanya terjadi di darat. Masalah lingkungan juga mengancam wilayah lautan atau lebih dikenal dengan istilah polutan. Secara ilmiah polutan merupakan peristiwa masuknya material pencemar, seperti partikel kimia, limbah industri, limbah pertanian, dan perumahan, ke dalam laut, yang bisa merusak lingkungan. Material berbahaya tersebut memiliki dampak yang bermacam-macam, baik secara langsung, maupun tidak langsung.

Salah satu penyebab pencemaran laut adalah polusi kapal, baik dari tumpahan minyak, air penyaring dan residu bahan bakar. Polusi dari kapal dapat mencemari pelabuhan, sungai dan lautan. Kapal juga membuat polusi suara yang mengganggu kehidupan organisme perairan. Balast tank kapal bisa memengaruhi suhu air sehingga menganggu kenyamanan organisme yang hidup dalamnya.

Bahan pencemar laut lainnya yang memberikan dampak negatif di perairan adalah limbah plastik. Sampah ini telah menjadi masalah global. Sampah yang dibuang akan terapung dan terendap di lautan. Sejak akhir Perang Dunia II, diperkirakan 80 persen sampah plastik terakumulasi di laut sebagai sampah padat yang mengganggu eksositem laut. Jumlahnya diperkirakan menumpuk hingga seratus juta metrik ton. Kondisi ini berpengaruh buruk, karena sulit terurai bakteri.

Selanjutnya limbah kimia. Limbah ini bersifat toxic (racun) bila masuk ke perairan laut akan menimbulkan efek yang sangat berbahaya. Kelompok limbah kimia ini terbagi dua, pertama kelompok racun yang sifatnya cenderung masuk terus menerus seperti pestisida, furan, dioksin dan fenol. Terdapat pula logam berat, yaitu unsur kimia metalik yang memiliki kepadatan relatif tinggi dan bersifat racun atau beracun pada konsentrasi rendah. Contoh logam berat yang sering mencemari  adalah air raksa, timah, nikel, arsenik dan kadmium.

Zat kimia yang paling berbahaya adalah pestisida. Bahan kimia ini bila masuk ke dalam ekosistem laut akan segera diserap oleh jaring makanan. Dalam jaring makanan, pestisida ini dapat menyebabkan mutasi,serta penyakit, yang dapat berbahaya bagi hewan laut, seluruh penyusun rantai makanan termasuk manusia. Racun semacam ini juga dapat terakumulasi dalam jaringan berbagai jenis organisme laut yang dikenal dengan istilah bioakumulasi. Zat tersebut dapat menyebabkan mutasi keturunan dari organisme yang tercemar, serta penyakit dan kematian secara massal seperti yang terjadi di Teluk Minamata.

Bahan kimia anorganik lain yang berbahaya bagi ekosistem laut adalah nitrogen, dan fosfor. Sumber dari limbah ini umumnya berasal dari sisa pupuk pertanian hanyut ke dalam perairan. Juga berasal dari limbah rumah tangga berupa diterjen yang banyak mengandung fosfor. Senyawa kimia ini dapat menyebabkan eutrofikasi, karena merupakan nutrien bagi tumbuhan air seperti alga dan phytoplankton. Tingginya konsentrasi bahan tersebut menyebabkan pertumbuhan tumbuhan air akan meningkat, dan akan mendominasi perairan. Sehingga menganggu organisme lain, bahkan bisa mematikan.

Muara merupakan wilayah yang paling rentan mengalami eutrofikasi karena nutrisi yang diturunkan dari tanah akan terkonsentrasi. Nutrisi ini kemudian dibawa air hujan masuk ke lingkungan laut. The World Resources Institute telah mengidentifikasi sebanyak 375 hipoksia (kekurangan oksigen) wilayah pesisir di seluruh dunia telat tercemar polutan.

Salah satu indikasinya adalah dengan peningkatan pertumbuhan alga merah secara signifikan (red tide). Alga ini bisa membunuh ikan dan mamalia laut, serta menyebabkan masalah pernapasan bagi manusia.

Selain itu lautan biasanya menyerap karbon dioksida dari atmosfer. Bila kadar karbon dioksida atmosfer meningkat, lautan menjadi lebih asam. Potensi peningkatan keasaman laut dapat memengaruhi kemampuan karang dan hewan bercangkang membentuk cangkang atau rangka mereka.

Kehidupan laut juga rentan terhadap pencemaran kebisingan atau suara dari sumber seperti kapal yang lewat, survei seismik eksplorasi minyak, dan frekuensi sonar angkatan laut. Perjalanan suara lebih cepat di laut daripada di udara.

Hewan laut, seperti paus, cen­derung memiliki penglihatan lemah, dan hidup di dunia yang sebagian besar ditentukan oleh informasi akustik. Hal ini berlaku juga untuk banyak ikan laut yang hidup lebih dalam di dunia kegelapan. Dilaporkan bahwa antara tahun 1950 dan 1975, ambien kebisingan di laut naik sekitar sepuluh desibel (telah meningkat sepuluh kali lipat). Jelas sekarang bahwa sumber pencemaran sangat bervariasi. Tidak hanya dari hal-hal yang menurut kita hanya bisa dilakukan oleh industri besar, namun juga bisa disebabkan oleh aktiftas harian kita.

 

Pencemaran Laut Indonesia Memprihatinkan

Tingkat pencemaran lingkungan laut Indonesia masih tinggi, ditandai antar lain dengan terjadinya eutrofikasi atau meningkatnya jumlah nutrisi disebabkan oleh polutan.

Pencemaran di laut bisa pula ditandai dengan meningkatnya pertumbuhan fitoplankton atau algae yang berlebihan dan cenderung cepat membusuk.  Kasus-kasus pencemaran di lingkungan laut, yang disebut red tide itu, antara lain terjadi di muara-muara sungai, seperti di Teluk Jakarta tahun 1992, 1994, 1997, 2004, 2005, 2006.

Di Ambon terjadi pada tahun 1994 dan 1997, di perairan Cirebon-Indramayu tahun 2006 dan 2007, Selat Bali dan muara sungai di perairan pantai Bali Timur tahun 1994, 1998, 2003, 2007, dan di Nusa Tenggara Timur tahun 1983, 1985, 1989.  Meski kerap terjadi, inventarisasi terjadinya red tide di Indonesia sampai saat ini masih belum terdata dengan baik, termasuk kerugian yang dialami.

Secara umum, kerugian secara ekonomi akibat dari red tide ini, adalah tangkapan nelayan yang menurun drastis, gagal panen para petambak udang dan bandeng, serta berkurangnya wisatawan karena pantai menjadi kotor dan bau oleh bangkai ikan. Efek terjadinya red tide juga ditunjukkan penurunan kadar oksigen serta meningkatnya kadar toksin yang menyebabkan matinya biota laut, penurunan kualitas air, serta tentunya menganggu kestabilan populasi organisme laut.

Slamet Daryoni dari Walhi Jakarta mengatakan bahwa pencemaran berat terutama di kawasan laut dekat muara sungai dan kota-kota besar. Selain karena polusi yang berasal dari limbah industri yang berlebihan, pencemaran  laut juga disebabkan oleh ekploitasi minyak dan gas bumi di lautan. Namun yang paling penting adalah akibat kebijakan dan perhatian pemerintah yang sangat kurang terhadap kelautan di Indonesia.

Selanjutnya Slamet Daryoni menjelaskan bahwa di sisi lain, tingkat pencemaran di beberapa kota termasuk di Jakarta sudah sangat memprihatinkan, sebagai contoh, adalah karena ada kaitan dengan kebijakan yang tidak berpihak kepada lingkungan. Di perairan Teluk Jakarta saja, kondisi cemar beratnya sudah mencapai 62 pesen. Padahal ini terjadi di Jakarta, pusat pemerintahan, pusat kebijakan. Terlebih lagi ketika pemerintah membuat kebijakan mengenai hal ini di tahun 2007. Lalu mengenai sungai, DKI Jakarta memiliki tiga sungai. Pencemaran dalam konteks cemar beratnya kini mencapai 94 persen.

Slamet Daryoni juga menjelaskan mengenai kegiatan ekplorasi gas dan minyak yang berdekatan dengan laut. Sisa pembuangannya dibuang di lautan. Misalnya kita lihat kembali kasus Minahasa yang mengakibatkan warga mengalami sakit yang luar biasa akibat arsen, mercuri dan zat kimia lainnya.

Leave a Reply


+ six = 9