07:53 pm - Saturday 19 April 2014

IMI Goes to IPB: Strategi Membangun Negara Maritim

By Redaksi - Wed Apr 18, 3:25 am

 

Konsep negara maritim, adalah negara yang mampu memanfaatkan dan menjaga wilayah lautnya. Sayangnya, sebagai negara kepulauan terbesar di dunia Indonesia belum mampu memanfaatkan potensi sumberdaya laut tersebut. Perlu konsep dan strategi untuk membangun Indonesia menjadi sebuah negara maritim yang tangguh dan berdaulat.

Hal itu diungkapkan pakar hukum laut internasional  Prof Hasyim Djalal dalam seminar nasional  ’Membangun Strategi Negara Maritim’ yang diselenggarakan Indonesia Maritim Institute (IMI) yang bekerja sama dengan Fakultas Perikanan dan  Kelautan Institut Pertanian Bogor (IPB) di Auditorium Sumardi Sastrakusuma kampus IPB, Dermaga,  Bogor Rabu (15/2/201).

“Sacara hukum internasional dan Undang-undang, memang Indonesia sebagai negara kepulauan. Tapi, kenapa belum maksimal memanfaatkan kekayaan yang ada di laut. Maka itu diperlukan konsep strategi negara maritim,” ujar Dewan Penasehat IMI ini.

Menurut Hasyim Djalal, konsep yang dimaksud negara maritim adalah negara yang mampu memanfaatkan dan menjaga lautnya. “Banyak negara kepulauan tapi bukan negara maritim, ada negara yang lautnya sedikit tapi memiliki predikat negara maritim. Contohnya China dan Amerika. Ada juga negara yang tidak memiliki laut tapi menguasai laut, seperti Belanda menjajah Indonesia 350 tahun karena mereka mampu menguasai laut,” terangnya.

Hasyim menyayangkan sikap pemerintah yang kurang merespon perkembangan isu laut. Padahal, Indonesia merupakan negara kepulauan terbesar di dunia seharusnya laut menjadi perhatian khusus.  “ Perhatian pemerintah terhadap perkembangan isu kelautan masih rendah ya,” kritik Hasyim.

Pembicara lain, Dewan Pembina IMI Conny Rahakundini, menyatakan negara maritim yang kuat juga terletak pada segi pertahanannya. “Berbicara mengenai konsep negara maritim, tidak lepas dari kepentingan pertahanan dan industri pertahanan. Sebagai negara kepulauan terbesar di dunia, Indonesia tidak hanya harus bisa menjaga kedaulatan, tetapi juga melindungi seluruh kekayaan alam yang dimilikinya,” katanya. Ia menjelaskan, konsep negara maritim tidak lepas dari kekuatan pertahanan. Jika pertahanan kuat kedaulatan negara pun akan terlindungi dari ancaman luar.

Sementara itu Dekan FIPK, Prof Indra Jaya , mengatakan Salah satu kekurangan bangsa ini sebagai negara kepulauan  adalah dibidang sains dan teknologi. Indonesia memang  negara yang luas. Untuk menjadi Negara Maritim, ada tiga bidang yang bisa mewujudakan menjadi Negara Maritim, pertama adalah sumber kehidupan, perdagangan dan kekuatan laut.

Pengamat Pertahanan dari LIPI, Jaleswari Pramodhawardani , yang menjadi pembicara dalam seminar ini mengingatkan tantangan Indonesia sebagai negara kepulauan di era gelobalisasi.  Menurutnya, defenisi pertahanan dan kemanan maritim sejauh ini belum ada yang defentif. Seperti misalnya defenisi PBB dan ASEAN Maritime Forum ttg itu juga ada perbedaan.

“Untuk mengatisipasi perkembangan globalisasi, sebagai negara kepulauan, Indonesia memerlukan sebuah strategi maritim dalam bentuk Ocean Policy, yang hingga saat ini belum tuntas” katanya.

Sementara itu, Direktur Eksekutif IMI, Y Paonganan dalam sambutannya memaparkan pemerintah tidak serius dalam mengelola laut. “Kami tahu bahwa Negara kita memiliki laut yang luas, tetapi pemerintah masih land base oriented,” kata Y Paonganan.

IMI,  lanjut Ongen panggilan akrabnya, akan terus mengkampanyekan pentingnya bervisi maritim dan menjadikan laut sebagai sumber kehidupan, bahkan sebagai contoh kecil, IMI selalu mengkritisi jika ada orang atau bahkan pejabat negara yang sering sampaikan umpatan “ke laut aja” untuk hal yang jelek, inikan menyamakan laut sebagai tempat sampah.

Acara seminar IMI  Goes To Campus ini dihadiri 596 orang peserta. Selain itu, dalam waktu dekat juga IMI akan melaksanakan ‘IMI Goes to Small Island Program’ yaitu akan mengirim dua  orang lulusan FPIK se Indonesia  ke pulau kecil terpencil dan terdepan selama setahun untuk memberikan edukasi kepada masyarakat.

Leave a Reply


7 − four =