10:18 am - Saturday 19 April 2014

La-Nina dan El-Nino, Berkah Sekaligus Bencana

By admin - Mon Aug 15, 3:51 am

 

Indonesia adalah negara kepulauan, begitulah banyak orang yang mengatakan. Tetapi banyak orang juga tidak tahu akan kekayaan, kegunaan dan efek dari laut itu sendiri terhadap negara Indonesia. Kebanyakan orang hanya tahu laut Indonesia itu luas dan indah, namun tentunya dengan keindahan tersebut banyak jugaancaman-ancaman baik yang berupa gejala alam maupun kerusakan yang diakibatkan oleh ulah manusia.

Posisi Indonesia yang sangat strategis, di mana Indonesia memiliki luas laut kurang lebih 5,6 juta km2 atau sekitar 63 persen dari total wilayahnya dengan garis pantai sepanjang 81.000 km dengan jumlah pulau mencapai 17.506 pulau. Dengan luasnya laut, maka ancaman yang paling besar yaitu terjadinya La Nina dan El Nino. Sebenarnya fenomena tersebut tidak bisa dikatakan sebuah ancaman, hanya seja memang bisa memberikan efek yang sangat besar bagi laut Indonesia.

Diketahui El Nino dan La Nina sendiri bisa dikatakan sebuah gejala yang menunjukkan perubahan iklim. El Nino (bahasa Spanyol) adalah peristiwa memanasnya suhu air permukaan laut di pantai barat Peru – Ekuador (Amerika Selatan yang mengakibatkan gangguan iklim secara global). Biasanya suhu air permukaan laut di daerah tersebut dingin, karena adanya up-welling (arus dari dasar laut menuju permukaan). Menurut bahasa setempat El Nino berarti bayi laki-laki karena munculnya di sekitar hari Natal (akhir Desember).

Di Indonesia, sendiri biasa disebut angin monsun (muson) yang datang dari Asia dan membawa banyak uap air, sebagian besar juga berbelok menuju daerah tekanan rendah di pantai barat Peru – Ekuador. Akibatnya, angin yang menuju Indonesia hanya membawa sedikit uap air sehingga terjadilah musim kemarau yang panjang.

Pengamat Kelautan dari Institut Pertanian Bogor (IPB), Jonson Lumban Gaol, menyatakan, jika terjadinya La Nina di Indonesia, justru akan menguntungkan para nelayan, pasalnya akibat dari hal tersebut terutama di pantai selatan jawa, dimana ikan tuna sangat membeludak. Terjadinya penyimpangan cuaca dapat memberi dampak yang positif bagi sektor perikanan. Karena, pada masa itu terjadi migrasi ikan tuna ke wilayah Indonesia.

“Tergantung lokasi, karena memang dampaknya berbeda-beda, Selatan Jawa misalkan hal tersebut malah menguntungkan, di mana ikan tuna naik. Dan hasil tangkap pun lebih besar. Dan itu tidak hanya terjadi di Selatan Jawa saja, melainkan di perairan barat Sumatera,” kata Jonson kepada Indonesia Maritime Magazine.

Meski demikian, Pakar Oceanografi ini menuturkan, dampak dari La Nina memberikan berkah di laut karena ikan melimpah. Tapi, Jonson menyesalkan di mana pemerintah tidak begitu tanggap akan hal tersebut, karena tidak dikelola secara serius. “Tangkapan membeludak tapi tidak diimbangi dengan harga pasar, sehingga tuna tersebut lebih banyak dibuang, seharusnya pemerintah bisa memprediksi ancaman La Nina tersebut karena memang itu bisa diprediksi empat bulan sebelumnya.”

Saat La Nina suhu muka laut di barat Samudera Pasifik hingga Indonesia menghangat. Kondisi ini mendorong ikan tuna dari Pasifik timur yang dingin bergerak masuk ke kawasan timur Indonesia. Karena tidak ada penangan serius atas hal tersebut oleh intnasi terkait, Doktor lulusan Jepang ini, menyatakan yang seharusnya menguntungkan tapi justru sangat merugikan. “Penelitian pun yang saya tahu, tidak ada. Nah yang tersa terkena dampak tersebut memang Indonesia bagian timur,” cetusnya.

Sebaliknya, ketika terjadi El Nino, lanjut Jonson, ikan tuna di Pasifik bergerak ke timur. Namun, ikan yang berada di Samudera Hindia bergerak masuk ke selatan Indonesia. “Hal itu karena perairan di timur samudera ini mendingin, sedangkan yang berada di barat Sumatera dan selatan Jawa menghangat.”

Ditanya mengenai dampak El Nino, Jonson mengatakan, fenomena El Nino menyebabkan curah hujan di sebagian besar wilayah Indonesia berkurang, tingkat berkurangnya curah hujan ini sangat tergantung dari intensitas El Nino tersebut. Namun karena posisi geografis Indonesia yang dikenal sebagai benua maritim, maka tidak seluruh wilayah Indonesia dipengaruhi oleh fenomena El Nino.

“El Nino pernah menimbulkan kekeringan panjang di Indonesia. Curah hujan berkurang dan keadaan bertambah menjadi lebih buruk dengan meluasnya kebakaran hutan dan asap yang ditimbulkannya, sementara di laut, dampaknya terasa terhadap terumbu karang dimana akan terjadi coral bleaching atau yang biasa disebut pemutihan karang, hal ini karena terbatasnya alga yang merupakan sumber makanan dari trumbu karang karena memang tidak mampu beradaptasi dengan peningkatan suhu air laut,” terangnya.

Jonson menambahkan, memanasnya air laut juga akan menggangu kehidupan jenis ikan tertentu yang sensitif terhadap naiknya suhu laut. “Kondisi ini menyebabkan terjadinya migrasi ikan ke perairan lain yang lebih dingin.”

Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Sri Woro Budiati Harijono, mengemukakan, dampak El Nino akan dirasakan signifikan di Indonesia hanya dengan satu syarat, yakni jika suhu permukaan laut Indonesia yang mendingin. Sesuai dengan teori hukum fisika dasar, angin berembus dari daerah yang bertekanan udara tinggi (lebih dingin) ke daerah bertekanan udara rendah (lebih panas).

“Karena suhu permukaan laut di Pasifik menghangat atau naik yang berarti bertekanan rendah, maka jika daerah-daerah di sekitar Pasifik (termasuk Indonesia) memiliki suhu muka laut yang dingin, maka angin termasuk uap air dari Indonesia akan ditarik ke Pasifik. Akibatnya tentu saja bisa diketahui, yakni terjadinya musim kemarau yang sangat kering,” jelasnya. Namun, kata Sri, dampak ini tidak akan berlaku, jika suhu permukaan laut Indonesia juga menghangat. “Jadi kalau dua-duanya menghangat, berarti tidak terjadi perbedaan tekanan udara. Jadi, meskipun El Nino kuat, tidak akan berpengaruh signifikan untuk Indonesia.”

Secara terpisah, Koordinator Peningkatan Kapasitas Riset Dewan Nasional Perubahan Iklim, Agus Supangkat menyampaikan, fenomena La Nina yang menjadi faktor dominan pemicu musim hujan berkepanjangan tahun ini akan berlanjut hingga Juni 2011.

“Hujan yang tersur menerus saat ini karena faktor La Nina, pengaruhnya akan terjadi hingga Juni 2011 mendatang. Musim kemarau 2011 diprediksi juga pendek, sekitar dua bulan,” katanya belum lama ini. Agus menyebutkan, siklus La Nina sendiri biasanya muncul 7-10 tahun sekali, namun dalam beberapa tahun terakhir muncul lebih awal. Fenomena itu dipengaruhi oleh aliran sistem air dari Samudera Pasifik. “Indonesia kebetulan terlewati aliran sistem air (arlindo) dari Pasifik ke Samudera Hindia, jadi itu sangat berpengaruh terhadap musim di Indonesia,” imbuhnya.

 

1 Comment

Comments 1 - 1 of 1First« PrevNext »Last
  1. 0

    You will be and so amazing guy, your blog post for your information sites are usually awesome good.

Comments 1 - 1 of 1First« PrevNext »Last

Leave a Reply


6 × five =