01:49 am - Saturday 19 April 2014

Bajak Laut, Nyata Bukan Dongeng

By admin - Wed Jul 06, 6:55 am

 

Bajak laut selintas hanya dikenal orang sebagai karakter dalam dongeng dan film. Namun jika menelisik sejarah, mereka ada dalam kehidupan nyata dari zaman ke zaman. Sejarah perompakan alias bajak laut terjadi secara bersamaan dengan sejarah navigasi. Menurut sejarah kuno, bajak laut sudah ada sejak abad ke-3, yaitu dengan munculnya bajak laut Yunani Kuno dan Romawi Kuno. Berbagai istilah mengenai bajak laut pun muncul, mulai dari nama The Viking, The Sea People dan The Saxon.

Bajak laut lahir karena tekanan dan kondisi yang memaksa mereka berbuat seperti itu. Mereka memilih hidup bebas tanpa aturan hukum dan merampas hak orang lain. Sadisnya, para bajak laut tidak segan membunuh, menyiksa bahkan membantai seluruh awak kapal, sebelum merampas seluruh harta korban. Para bajak laut menjalankan aksinya berdasarkan koloni dan wilayah jalur pelayaran yang mereka kuasai. Tak heran jika banyak istilah dalam hirarki para perompak.

Bajak Laut di Karibia

Sejarah perompakan di wilayah Karabia terjadi seiring dengan perkembangan ekonomi dan kehidupan sosial pada masa itu. Episode bajak laut di sana berhubungan dengan sejarah keberadaan kerajaan Spanyol dan penemuan dunia baru, Amerika.

Pemicu lahirnya bajak laut di wilayah tersebut terkait keputusan Paus Alejandro VI pada 1493, yang memberi hak khusus bagi Spanyol dan Portugis atas kepemilikan tanah asing yang mereka temukan. Prancis memprotes keputusan tersebut.

Sementara kerajaan Inggris belum mempunyai angkatan laut. Mereka tidak bisa ikut campur dalam masalah ini.Prancis dan Inggris terdampar di luar garis kekayaan Amerika, dan Spanyol. Situasi semakin buruk dengan ditutupnya perdagangan dunia terhadap orang-orang asing. Semua kapal asing yang berlayar di lautan dunia baru dianggap bajak laut.

Reaksi pertama muncul dari Prancis. Karena kekurangan angkatan laut, mereka mem­pro­vokasi pelaut-pelaut swasta untuk membajak. Sekitar 1537 masehi Karibia mulai dipenuhi para bajak laut Prancis.

Setelah itu Inggris mulai memperhatikan atensinya terhadap Amerika. Mereka ikut bermimpi mendapat rampasan harta karun. Untuk pertama kalinya munculah bajak laut Inggris di Karibia, di bawah perlindungan Ratu Elizabeth. Kebanyakan dari mereka adalah bangsawan. Jika bukan, ratu memberikan keleluasaan pada mereka untuk masuk kebangsawanan.

Bajak Laut Asia Timur

Wokou atau Bajak laut Jepang adalah bajak laut yang meram­pok pesisir of Tiongkok dan Korea, Asia Timur. Wokou umum­nya terdiri dari perompak, serdadu, ronin, pedagang dan penyelundup berkebangsaan Jepang. Tahap awal aktivitas Wokou dimulai pada abad ke-13 dan berlanjut sampai paruh kedua abad ke-14. Bajak laut Jepang memusatkan perhatian di Semenanjung Korea dan me­nye­bar melintasi Laut Kuning ke Tiongkok.

Pada saat itu Dinasti Ming berusaha melarang perdagangan sipil dengan Jepang, meski masih memper­tahankan per­da­gangan antar pe­merintah. Em­bargo ini tidak berhasil, para saudagar Tiongkok lebih memilih melindungi kepentingan mereka. Bahkan, mereka melawan perintah kekaisaran Dinasti Ming dan berdagang dengan Jepang secara illegal. Sebaliknya, perdagangan antar pemerintah tidak mencukupi keperluan dan membuat banyak pengrajin bangkrut. Ini memicu tahap kedua aktivitas para Wokou.

Tahap kedua Wokou berlang­sung dari awal sampai perte­ngahan abad keenam belas. Pada masa itu komposisi dan kepemimpinan para Wokou bergeser sepenuhnya ke Tiongkok. Di puncak kee­ma­sannya pada dasawarsa 1550-an, Wokou beroperasi di lautan Asia Timur. Bahkan berlayar hingga ke sungai-sungai besar, seperti Sungai Yangtze.

Istilah Bajak Laut

Dilihat dari sisi bahasa, bajak laut (pirate) adalah para peram­pok laut yang bertindak di luar hukum. Kata pirate berasal dari bahasa Yunani yang berarti ‘yang menyerang’, ‘yang meram­pok’. Dalam bahasa Indonesia dan Melayu sebutan lain untuk bajak laut, lanun, berasal dari nama lain salah satu suku maritim di Indonesia dan Malaysia, Orang Laut.

Tujuan mereka tidak bersifat politik, mereka mencari keuntungan sendiri dan tidak melayani siapapun kecuali di bawah bendera Jolly Roger (bendera bajak laut). Banyak dari corsario (corsair) berubah profesi menjadi bajak laut selama periode perdamaian antara Spanyol dan Inggris.

Target utama penyerangan bajak laut adalah sebagian besar kapal-kapal dan juga daerah-daerah kolonial yang berada di bawah kekuasaan Spanyol atau Portugis. Ini adalah suatu hal yang logis karena kedua kerajaan itulah yang memonopoli perdagangan antara Eropa dan Dunia Baru.Kapal-kapal yang mengangkut emas dan perak dari Amerika merupakan sasaran empuk para bajak laut. Namun demikian, tak satupun bendera yang selamat dari kekejaman mereka.

Raja-raja Eropa mencoba berjuang melawan para pembajak dengan memasok senjata dan peralatan yang cukup untuk kapal-kapalnya. Ironisnya, tak satu pun armada yang siap melawan pembajak.

Kapal corsario (corsair) adalah kapal yang berlaut atas perin­tah dari seorang raja dan mela­kukan aksi-aksi perang melawan kepentingan kerajaan musuh (biasanya mencoba untuk melemahkan kekuasaan komersial dan kolonial). Para corsair ini dalam kekuasannya memiliki dokumen-dokumen yang memberikan kuasa kepada kapal yang dikendalikan untuk berbuat aksi-aksi perang.

Dokumen tersebut dinamakan Letter of Marque atau Patente de Corso. Batasan-batasan yang digariskan pada dokumen tersebut sangat kabur (tidak jelas) dan biasanya kapten-kapten corsario dan tripulasi-nya itulah yang memutuskan apa yang bisa mereka perbuat dan apa yang dilarang.

Kekuasaan corsario dianu­ge­rahkan oleh seorang raja, walaupun praktiknya raja mendelegasikan kepada seorang gubernur. Pada periode peperangan, delegasi corsario sering dipakai dalam ekspedisi-ekspedisi untuk melawan kepentingan musuh. Ketika ini terjadi, kapten-kapten tersebut dan tripulasinya diwa­jib­kan menyerahkan semua ram­pasan harta kepada kerajaan hanya sebagian kecil (yang mungkin bisa seperlima atau lebih).

Saat kapal-kapal corsair tidak menjadi bagian misi kerajaan, mereka biasanya menyerang kapal apa saja selama tidak berbendera sama dengan kerajaan dari mana mereka berasal. Mereka beraksi layaknya bajak laut, namun masih menyimpan hak-hak berlaut yang bersifat corso (dilindungi oleh satu kerajaan). Harta rampasan yang diperoleh dengan cara ini adalah untuk mereka, walaupun diwajibkan menyerahkan satu bagian untuk pemerintah koloni dari mana mereka berasal.

Kapal-kapal corsair bisa diang­gap sebagai pelabuhan aman bagi mereka yang berasal dari negara/kerajaan yang sama, dan mereka mendapatkan perlindungan. Para corsair tak dapat dihukum gantung karena alasan pemba­ja­kan. Mereka memiliki “izin” (kuasa hukum corso) yang dikeluarkan kerajaan. Namun, pada ke­nya­taan­nya seorang corsair yang dikejar musuh, tidak dapat mem­percayai hal ini, karena ada kebiasaan menghukum gantung corsair musuh.

Bucanero mulai dikenal di sebagian koloni Prancis (sekarang Haití). Nama bucaneros (buc­ca­neers), berasal dari kata Indian, bucan, yang merujuk pada tempat di mana daging diasapkan, dengan cara mem­bakar kayu hijau di bawah be­berapa tongkat dengan bentuk panggangan, kini bernama barbeque.

Di bagian pulau yang tidak berpenghuni (bagian timur dihuni oleh orang Spanyol) terjadi reproduksi secara luar biasa hewan banteng dan sapi. Para bucanero bekerja memburu hewan untuk dijual kulit dan daging asapnya kepada kapal-kapal yang menghargai rasa dan ketahanan daging buatan mereka.

Bucanero hidup di alam bebas. Tak ada seorangpun pun yang memerintah atau menguasai mereka. Kondisi ini mengundang orang yang diusir, buronan, budak, Indian pemberontak, dan orang-orang yang dikejar atas nama agama. Jumlah bucanero terus ber­tambah. Pada 1620 mereka mulai dikejar orang-orang Spanyol. Karena itu, mereka memutuskan menjadi perompak dan mendirikan pangkalan operasi di pulau Tortuga, dekat dengan koloni Spanyol. Penga­kuan keberadaan mereka oleh Le Vasseur sebagai peme­rintah pulau berangkat dari kepen­tingan riil membawa Bucanero berasosiasi dalam “Hermandad de la Costa” atau “persaudaraan daratan pantai” yang memun­cul­kan asal filibusteros.

Karena di pulau Tortuga tidak terdapat buruan, para bucanero berhadapan dengan sebuah dilema untuk terus hidup. Mereka berburu di teritori Spanyol mendedikasikan diri pada pembajakan. Mereka yang menujuk pilihan terakhir dinamakan filibusteros (free­booter). Kata filibusteros berasal dari bahasa Belanda Vrij Buiter (”yang merampas harta” atau dalam bahasa Inggris, freebooter).

Setelah mendapat pelajaran keras diusir dari koloni Spanyol, para freebooter mengerti perlu bersatu jika mereka ingin melawan akan adanya kemungkinan risiko. Kebiasaan hidup dengan kemerdekaan yang penuh, membuat mereka tidak mengizinkan diperintah oleh hukum, norma dan orang-orang di atas mereka. Maka lahirlah perkumpulan persaudaraan. Para filibusteros ini menyerang kapal apa saja, dari kerajaan manapun, walaupun kapal-kapal Spanyollah yang sering menjadi korban mereka.

Mereka seringkali meng­gunakan kapal kecil, dan dimodali orang-orang dari Eropa dengan kepentingan melemahkan perdagangan musuh. Mereka seringkali meng­ga­gal­kan perdagangan antar koloni. Mereka berani dengan senjata minim dan tripulasi yang sedikit. Mereka menyerang galeon-galeon kapal besar yang dipersenjatai secara luar biasa, mengangkut emas.

Engagé adalah kata Prancis yang artinya ‘yang terlibat’, ‘yang berkomitmen’, atau ‘yang siap bekerja’. Seorang engagé artinya adalah seseorang bebas yang menandatangani kontrak selama tiga tahun. Di mana dia diwajibkan bekerja sebagai pembantu untuk orang ketiga, dengan kondisi yang sama halnya dengan perbudakan.

Selat Malaka Masih Rawan Bajak Laut

Perompakan di perairan Asia Tenggara sudah lama ada. Sejak abad ke-19 Selat Malaka telah menjadi jalur laut penting bagi kapal-kapal yang berlayar dari India dan Tiongkok. Di jalur Selat Malaka, wilayah Indonesia yang dipenuhi ribuan pulau, selat-selat sempit, dan muara sungai, menjadi tempat persembunyian sempurna perompak. Fakta geografi ini, beserta dengan faktor-faktor lain, mempermudah perompakan.

Perompak tradisional di Asia Tenggara dikenal dengan nama Orang Laut, atau juga disebut Lanun. Mereka bermukim di perkampungan pesisir negara Malaysia, Indonesia, dan Filipina modern. Kemudian bajak laut Tionghoa muncul. Mereka adalah orang-orang terbuang dari masyarakat Tiongkok masa dinasti Ching. Mereka memangsa kapal-kapal yang berdagang di Laut China Selatan, menggunakan Kapal Jung.

Di wilayah ini perompakan dapat dilihat sebagai bentuk peperangan penduduk asli melawan pengaruh Eropa, yang merusak tatanan tradisional masyarakat pedagang di Asia Tenggara.

Selat Malaka hingga saat ini masih rawan perompakan. Namun penindakan terhadap para perompak sering kali mengalami kesulitan saat korban, terutama pemilik kapal tak mau melaporkan kejadian perompakan yang biasanya menggunakan modus menyandera nakhoda atau kepala kamar mesin. Statistik dari Biro Maritim Internasional, IMB, menunjukkan pada 2007 terjadi peningkatan serangan bajak laut sampai 10 persen.

Selat Malaka yang sempit, antara Indonesia dan Malaysia, merupakan jalur pelayaran dunia yang penting dan terkenal dengan aksi para bajak laut. Ratusan kapal, umumnya berupa tanker minyak dan kapal barang, melintasi Selat Malaka setiap harinya. Dan selama berabad-abad, selat ini menjadi satu-satunya pintu gerbang utama untuk pelayaran menuju ke kawasan Timur.

Selama periode Mei-Juni 2008, Pangkalan Utama TNI Angkatan Laut I Belawan, mendata telah terjadi empat kali perompakan terhadap kapal-kapal nelayan. Salah satu kasus perompakan yang terjadi tanggal 30 Juni lalu terhadap KM Champion X berlangsung tragis. Kelompok bersenjata yang melakukan aksi perompakan tersebut membiarkan awak kapal terapung di laut sementara kapalnya dibakar. Hingga kini nasib nakhoda dan kepala kamar mesin KM Champion X malah tak diketahui nasibnya setelah menjadi sandera perompak.

“Sebenarnya kami sudah mencoba melakukan sosialisasi kepada nelayan maupun pemilik kapal soal penggunaan frekuensi radio khusus. Frekuensi ini bisa dimanfaatkan nakhoda jika terjadi perompakan di tengah laut. Kami kan punya Kamla (Keamanan Laut) di beberapa titik yang bisa sewaktu-waktu melakukan pengejaran terhadap perompak. Sayangnya, frekuensi ini jarang sekali digunakan untuk melaporkan aksi kejahatan di laut,” ujar Siahaan.

Siahaan mengatakan, banyak kapal nelayan enggan membuka frekuensi radio ketika di laut. Dia mengaku tak tahu mengapa nakhoda kapal enggan membuka frekuensi radionya. Padahal saat terjadi perompakan, perompak cenderung melakukan perampasan terhadap alat komunikasi terlebih dulu.

Bahkan kata Siahaan, ketika perompak meminta tebusan atas penyanderaan nakhoda dan juru mesin, mereka sebenarnya menggunakan komunikasi lewat radio kepada pemilik kapal. “Kalau memang mereka tak mau komunikasinya didengar, mereka sebenarnya bisa mengunci sendiri frekuensi radio komunikasinya,” kata Siahaan.

Salah seorang nelayan di Belawan menutur­kan, keengganan mereka melaporkan perom­pakan di laut, lebih karena nelayan me­rasa pesimis terhadap tindakan yang bisa dilakukan aparat keamanan. Menurutnya, selama ini jarang sekali pelaku perompakan bisa tertangkap. Perompak di Selat Malaka, selain sering menggunakan kapal yang mirip kapal nelayan, mereka juga dilengkapi senjata otomatis.

Leave a Reply


+ 1 = three