06:38 pm - Thursday 17 April 2014

Rehabilitasi dan Pengelolaan Terumbu Karang

By admin - Mon Jun 27, 2:58 am

 

PROGRAM Rehabilitasi dan Pengelolaan Terumbu Karang (COREMAP) meru­pa­kan komitmen jangka panjang Pe­merintah Indonesia untuk mengelola secara berkelanjutan sumberdaya terumbu karang untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat pesisir dan pulau-pulau kecil.

Program yang didesain dalam tiga tahap (inisiasi, akselerasi, institusionalisasi). Saat ini, sedang diimplementasikan COREMAP II, yang merupakan fase Akselerasi untuk menetapkan sistem pengelolaan terumbu karang yang andal di daerah-daerah prioritas, yang merupakan kelanjutan dari COREMAP tahap I (Inisiasi). Setelah COREMAP II, bagian akhir tahapan program COREMAP adalah COREMAP III (Institusionalisasi), yang bertujuan untuk menetapkan sistem pengelolaan terumbu karang yang andal dan operasional, secara desentralisasi dan melembaga.

Coremap Tahap I  (inisiasi) ifokuskan kepada mensosialisasikan upaya penyelamatan terumbu karang, menggugah masyarakat untuk melakukan dan meningkatkan kesadarannya untuk tidak merusak terumbu karang, tema yang diangkat adalah SEKARANG – selamatkan terumbu karang… sekarang!!!. Peningkatan kesadaran masyarakat tentang terumbu karang yang jadi fokus di coremap I.

Menurut Dirjen Kelautan, Pesisir dan Pulau-pulau Kecil (KP3K) KKP, Dr Suirman Saad, berdasarkan  evaluasi tahap satu program COREMAP berhasil membangkitkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya konservasi terumbu karang. melalui Coremap II (Akselerasi) kemudian dibangun kelembagaan di tingkat pusat dan lokal dengan dua sasaran. Pertama, diharapkan bisa dijadi forum untuk memperbincangkan untuk memfaatkan serta mengelola terumbu karang secara berkelanjutan. Kedua, soal kesejateraan dibentuk lembaga yang ditargetkan lembaga keuangan mikro sebagai penguatan modal untuk melakukan kegiatan pengelolaan terumbu karang.

”Misalnya disitu ada potensi ikan tangkap, maka mereka digugah partisipasinya untuk mencari metode-metode  yang ramah lingkungan, kelestarian terumbu karang dan kesejahteraan harus didekatkan. Ini penting sekali, mengingat jika kita hanya mengkampyekan penyelamatan terumbu karang saja, namun disisi lain tidak digarap ekonominya, maka mereka akan kembali lagi. Sebenarnya, mereka tahu merusak terumbu karang itu salah,disatu sisi mereka punya tuntutan pada keluarganya.Untuk meyelamatan keluarga pergilah mereka  merambah terumbuh karang,” ujar Sudirman.

Upaya penyelamatan terumbu karang yang dilakukan melalui program COREMAP II ini, sesungguhnya sedikit sekali menyentuh langsung terhadap ekosistem terumbu karangnya. Terumbu karang dilindungi dan dilestarikan, melalui upaya rehabilitasi secara alami sedangkan masyarakat digugah kesadarannya untuk turut berpatisipasi dalam menjaga dan memanfaatkan sumberdaya secara arif dan bijaksana. Masyarakat diberikan alternatif mata pencaharian sehingga terjadi penurunan tekanan terhadap terumbu karang.

Jadi sesungguhnya program COREMAP ini adalah adalah program pemberdayaan masyarakat yang bertujuan untuk  melindungi dan melestarikan sumberdaya ekosistem terumbu karang dan asosiasinya dalam rangka meningkatkan kesejahteraan masyarakat pesisir dan pulau-pulau kecil.

Upaya pengelolaan sumberdaya di wilayah perairan laut, salah satunya dilakukan melalui pembentukan kawasan konservasi perairan (KKP) dan daerah perlindungan laut (DPL) yang berfungsi sebagai tabungan ikan (zona inti KKP). Pengelolaan KKP yang diinisiasi oleh COREMAP II, berpotensi mendukung pengelolaan perikanan yang berkelanjutan untuk kesejahteraan masyarakat. Selain pengembangan KKP, melalui COREMAP II juga dikembangkan kebijakan di tingkat Kabupaten/kota (berupa Perda dan Renstra), upaya-upaya pengelolaan sumberdaya masyarakat (CBM)  dikembangkan, salah satunya melalui mata pencaharian alternatif, kegiatan pengawasan berbasis masyarakat, di tingkat desa, masyarakat juga secara partisipatif membuat daerah perlindungan laut sebagai tabungan ikan yang menjadi satu jejaring dalam pengelolaan KKP, komponen lainnya adalah penyadaran masyarakat – salah satunya melalui muatan lokal untuk SD, SMP, SMA maupun beasiswa master degree dan riset.

Melalui berbagai aktivitas ini, COREMAP II merupakan satu-satunya program yang komprehensif pendekatannya, memadukan pendekatan yang mempertemukan antara top down dan bottom up, mengutamakan partisipasi masyarakat menuju terciptanya sumberdaya terumbu karang yang sehat, ikan berlimpah dan masyarakat sejahtera.

Target/Performance Indicator yang diharapkan dari program ini adalah meningkatnya tutupan karang hidup sebesar 2 persen per tahun dan adanya peningkatan pendapatan per kapita rata-rata 2 persen per tahun. Upaya monitoring dan evaluasi pertumbuhan karang dilakukan melalui National Reef Benefit Monitoring and Evaluation System (BME) dan laporan survei lapang, sedangkan pemantauan peningkatan pendapatan (ksesejahteraan) berdasarkan Survei sosial-ekonomi. Pada tataran angka kesejahteraan, diharapkan program ini mampu meningkatkan pendapatan 10.000 Kepala Keluarga sebesar 20 persen pada masa program, serta meningkatnya standar hidup 10,000 kepala keluarga pada wilayah sasaran program.

Dengan dua sasaran itu, lanjut Sudirman,  maka dilakukanlah evaluasi dari tim independen, World Bank dan ADB (Asian Development Bank), bahwa indikator-indikator  tersebut telah tercapai atau belum. Tetapi secara keseluruhan efektivitas Coremap II ini dinilai diatas target yang disepakati. Manfaat COREMAP II yang telah banyak dirasakan oleh masyarakat dan para pemangku kepentingan di tingkat pusat dan daerah kiranya perlu terus dilanjutkan melalui program-program yang strategis untuk mendorong kemandirian masyarakat. Kisah keberhasilan COREMAP II, juga tidak luput dari pantauan tim ADB maupun WB.

Muhammad Nasimul Islam, ketua Tim Misi ADB menyampaikan pendapatnya saat wrap-up meeting Review Mission ADB akhir bulan maret lalu. bahwa ada peningkatan yang mengesankan dari program ini. Dana program yang terbatas ternyata mampu memberikan dampak bagi peningkatan kehidupan masyarakat nelayan. Ia membandingkan dengan program-program serupa di negara lain yang menyedot dana jauh lebih besar, namun dinilai hasilnya tidak sebaik pencapaian di Indonesia.

Kedatangan tim ADB tersebut selain mengevaluasi implementasi kesepakatan misi yang tahun sebelumnya, misi kali ini juga mereview kegiatan tahun 2011 termasuk detail penjadwalan dan prediksi penyerapannya, khususnya di Kabupaten Lingga dan untuk kegiatan rehabilitasi pasca tsunami di Kepulauan Mentawai, mendiskusikan strategi pasca program COREMAP II serta update status pencapaian program COREMAP II.

Masih kata Sudirman, Setelah Coremap II lalu dilanjutkan Coremap III. Coremap III (Institusionalisasi) merupakan tahap pelembagaan, nanti akan lebih banyak diorentasikan pemberdayaan masyarakat kearah kemandirian, serta pengelolaan Kawasan konservasi yang berada di wilayah Coremap. “Komponen kegiatan dan anggaran di Coremp III lebih banyak diperlukan untuk masyarakat mengelola terumbu karang secara berkelanjutan,” imbuhnya.

Wilayah jangkauan coremap III akan diper­luas menjadi 40 kota/kabupaten dan 15 provinsi, serta memperkuat peran lembaga pengelola/Unit Pelaksana Teknis (UPT) kawasan konservasi baik nasional maupun daerah. Komponen yang diusung COREMAP III nampaknya akan bertambah, setidaknya ada 6 komponen yang diusulkan, yaitu: (1) Penguatan Kelembagaan (Pengelolaan Data dan Informasi, Pengembangan Kebijakan dan Peraturan Perundang-undangan, Penelitian, Pengembangan, dan Penyuluhan (Extension), Penguatan & Pengembangan Lembaga Pengelola Kawasan Konservasi dan Pengelolaan Pesisir dan Pulau-pulau Kecil (KP3K), Pemantauan, Pengendalian, dan Pengawasan (MCS) Sumberdaya Terum­bu Karang; (2) Peningkatan Kapasitas Sumberdaya Manusia (Pelatihan Aparatur dan Dukungan kepada Sekolah Konservasi, Pelatihan kepada Masyarakat dan Pemangku Kepentingan Lain, Pendidikan); (3) Pengelo­la­an Sumberdaya Berbasis Ekosistem (Pengelolaan Kawasan Konservasi Nasional, Dukungan Pengelolaan Kawasan Konservasi Daerah, Perlindungan Keanekaragaman Hayati Laut, Pengelolaan Pesisir Terpadu, Adaptasi Perubahan Iklim); (4) Pengembangan Kegiatan Ekonomi Konservasi (Pengembangan Wisata Bahari, Perikanan Berkelanjutan,  Inovasi Kewirausahaan (Berbasis Karakteristik Setempat); (5) Pemantapan Kepedulian Masyarakat (Peningkatan Kemitraan, Kampanye Penyelamatan Terumbu Karang dan Ekosistem Terkait); dan (6) Koordinasi dan Manajemen Proyek.

Program Coremap III juga merupakan inisiatif baru dalam tataran output maupun outcome yang akan dihasilkan, komponen ekonomi konservasi diharapkan betul-betul dapat mendekatkan konservasi dan kesejahteraan masyarakat. “Coremap merupakan program spesifik untuk terumbu karang tentusaja sasarannya adalah populasi terumbu karang yang luas, sehat dan menjadi rumah bagi ikan yang melimpah,” ujarnya.

Sudirman menjelaskan, program Coremap III merupakan bagian dari desain besar sebagai implimentasi CTI (coral triangle initiative) serta menjadi bagian dari upaya dunia untuk mengatasi perubahan iklim. Terumbu karang berkontroibusi dalam menurunkan pemanasan global, walau masih diperdebatkan perannya dalam ikut menyerap karbon. (terumbu karang merupakan sumber karbon)

“Saya perkiran Coremap III gaungnya akan lebih besar, karena mulai tahun 2012 memiliki sekertariat bersama enam negara yang berkantor di Manado. Indonesia merupakan wilayah yang terbesar terumbu karanganya dan berdamapak pada ekositem laut. Seluruh dunia ikut kontribusi untuk mengelola terumbuh karang di Indonesia. Kesuburan terumbu karang, dengan rasio antara potensi lestari ikan dengan jumlah nelayan yang ada saat ini, kalau dihitung hasil ikan yang ditangkap 6,4 juta ton pertahun dengan jumlah nelayan 2,7 juta. Rata-rata nelayan mendapatkan 2 ton pertahun, dibagi 365 hari dan rata-rata perhari nelayan menangkap ikan 2 kilo perhari. Sungguh ironi sekali, Indonesia yang luas lautanya namun nelayan jauh dari kesejahteraan. Dengan ada program Coremap III, dapat membantu produktivtas hasil tangkap nelayan,” sambungnya.

Masih kata Sudirman, kerusakan terumbu karang sebelum ada Coremap mencapai  85 persen. Namun, setelah ada Coremap ada perbaik-perbaikan. Walaupun presentase kerusakan terumbu karang masih besar, sekitar 65 persen, namun prosentase luas terumbukarang yang mempunyai kondisi baik meningkat. ada peningkatkan kesehatan terumbu karang, ada perubahan dan perbaikan signifikan terhadap terumbu karang yang dibarengi dengan peningkatan kesejahteraan masyarakat.

Racikan yang tepat melalui upaya penguatan kelembagaan, pengelolaan sumberdaya berbasis masyarakat dan penyadaran masyarakat yang dilaksanakan secara sinergis dan terpadu diharapkan program pengelolaan terumbu karang yang dikemas dalam COREMAP ini, pada akhirnya mampu menjaga kelestarian ekosistem terumbu karang, meningkatkan pengelolaan perikanan secara berkelanjutan demi kesejahteraan generasi kini dan mendatang.

 

2 Comments

Comments 1 - 2 of 2First« PrevNext »Last
  1. 0

    Tidak dapat disangkal bahwa karang-karang adalah tempat ikan tempat berlindung. Selama rakyat setempat kehidupannya tergantung akan penjualan ikan tangkap, kemana an dimana ikan tangkap berada akan diburu. Karang-karang adalah tempat ikan yang paling aman. Dekat pantai, ikannya banyak. apakah kiranya dapat dicarikan jalan agar penduduk setempat tidak mengganggu karang-karang itu dengan mebuat “karang-karang” buatan dimana ikan-ikan tangkap berlindung.

    Beberapa waktu yang lalu saya membaca artikel mengenai bagaimana New York State Metropolitan Transit Authority membuang gerbong-gerbong kereta api yang sudah tua-tua.
    Ternyata gerbong-gerbong ini di bawa kelautan lepas dan ditenggelamkan. Katanya agar menjadi “rumah” ikan-ikan.

    Nah, kalau cara ini dtrapkan diperairan Nusantara bagaimana?

    Kalu saja dimulai di perairan Laut Jawa dipesisir Pulau Jawa. Kerangka kapal ditenggelamkan mulai dari Banten Utara ke Tg.Priok. Dipilih beberap tempat yang dekat permukiman rakyat dipantai itu. Mungkin dua atau tiga kapal ditenggelamkan disitu. Jarak dari pantai kira-kiranya yang tidak begitu sukar atau begitu jauh untuk dijamgkau oleh perahu nelayan setempat. Namun juga jangan terlalu ketengah sehingga menjadi halangan untuk lalu lintas kapal laut.

    Atau ditenggelamkan rangka-rangka mobil penumpang atau truk. Dengan daerah percobaan disekitar pelabuhan-pelabuhan besar. Di perairan Tg.Priok bekerjasama dengan IPB,Bogor. Di sekitar perairan pelabuhan Semarang bekerjasam dengan UNDIP. Di perairan pelabuhan Surabaya bekerjasama dengan ITS. Di Sumatra Utara, Sulawesi Selatan dan Nusa Tenggara. Kemudian dalam waktu-waktu tertentu diperiksa mengenai jumlah ikan yang berlindung disitu. Dan kalau percobaan ini menunjukkan kemungkinan bersar akan dihuni ikan-ikan tangkap, baru dilaksanakan rangka-rangka mobil/truk atau dikemudian hari kapal-kapal baja atau kapal-kapal kayu ditenggelamkan ditempat-tempat karang-karang yang perlu dilindungi.

    Karang-karang terlindung, nelayan-nelayan masih dapat menangkap ikan tidak jauh dari pantai.

  2. 0

    My boyfriend bookmarked this link we came here accidentally. Thanks quite a bit with this post! An actual good read. I do not need much time right this moment to write a large amount of my own ring opinions, however, generally if i revisit tomorrow evening, I’m able to explain why I have to admit i dig on this article.

Comments 1 - 2 of 2First« PrevNext »Last

Leave a Reply


+ 1 = three