11:09 pm - Thursday 24 April 2014

Masyarakat Pesisir Menanti Pemberdayaan Ekonomi

By admin - Thu Apr 28, 7:05 am

Program Pemberdayaan Ekonomi Masyarakat Pesisir (PEMP) dilaksanakan di Indonesia sejak tahun 2001 dan telah terbentuk lebih 300 lembaga ekonomi pengembangan pesisir. PEMP sendiri adalah sebuah program yang bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan nelayan. Dengan program tersebut, masyarakat nelayan diharapkan bisa memperoleh pendapatan sekitar 1,5US$ perhari, atau sekitar Rp 500.000, dengan target pencapaian 10 persen dari masyarakat miskin pesisir.

Penyebab dari kemiskinan sendiri antara lain, belum adanya kebijakan, strategi dan implementasi program pembangunan kawasan pesisir dan masyarakat nelayan yang terpadu di antara pemangku kepentingan pembangunan. Adanya kegiatan ‘over – fishing’, musim paceklik yang berkepanjangan, dan kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM).

Tidak hanya itu, faktor keterbatasan modal usaha atau modal investasi, yang menyulitkan nelayan untuk meningkatkan kegiatan ekonomi-perikanannya, ketergantungan masyarakat pesisir dengan pemilik perahu, pedagang perantara (tengkulak), atau pengusaha perikanan dalam kehidupan masyarakat.

“Rendahnya SDM dan tingkat pendapatan rumah tangga nelayan, sehingga berdampak negatif terhadap upaya peningkatan skala usaha dan perbaikan kualitas kehidupan mereka,” kata Direktur Pemberdayaan Masyarakat Pesisir dan Pengembangan Usaha, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), Ferrianto H.Djais, kepada Indonesia Maritime MagazineDiakui oleh Ferri, sekitar 40-60 persen masyarakat Indonesia tinggal diwilayah pesisir yang mempunyai pekerjaan sebagai nelayan. “Sejalan dengan visi dan misi pak menteri, yang menginginkan kesejahteraan masyarakat nelayan ditingkatkan,” ujarnya.Dijelaskan olehnya, bahwa untuk meningkatan kesejahteraan masyarakat pesisir, kuncinya ada dua yaitu bisa memberikan kesempatan kerja dan meningkatkan pendapatan, jika dua tersebut tidak bisa direalisasikan tentunya akan sangat sulit.
“Masalah di pesisir tidak sederhana, bukan tiba-tiba kita bisa menciptakan lapangan pekerjaan. Tentunya perlu diperhatikan faktor-faktor lain, apakah sudah siap lingkungannya baik dipesisir maupun di pulau-pulau terpencil, meski sumber dayanya kaya tetapi jika masyarakatnya tidak banyak terlibat dalam akses-akses tersebut, maka akan sangat sulit kesejahteraan tersebut bisa terwujud,” tegasnya.

Didalam pemerintahan saat ini, lanjut Ferri, KKP akan mencoba mendongkrak dengan upaya untuk meningkatkan kesejahteraan dengan melalui peningkatan produksi, seperti target perikanan budidaya sebagai target core bisnis KKP, itu ditargetkan pertumbuhannya sampai 2014, sebesar 335 persen, sementara untuk perikanan tangkap sekitar 6 persen.

“Yang bisa digenjot itu budidaya, nah target 2014 total keseluruhan yaitu sekitar 16 juta ton, dan yang paling banyak sekitar 10 juta ton itu rumput laut, itu lah salah satu peluang komoditi yang bisa kita dongkrak untuk menjadikan pengembangan usaha,” terangnya.

Secara pengembanganya dari 16 juta ton itu bukan hanya memproduksi rumput laut, tapi paling penting adalah bagaimana pengolahannya, lalu bagaimana pemasarannya, jadi ada sebuah satu mata rantai yang harus dikembangkan. “Jadi bukan peningkatan produksinya saja, apakah budidaya atau tangkap tetapi kita mencoba setelah ada budidaya ada tangkap bagaimana pengolahannya, bagaimana pemasarannya, ini yang akan kami siapkan,” Ferri menjelaskan.

Jika mata rantai itu kuat, masih kata Ferri, maka pendapatan ekonomi masyarakat didalam pendapatan daerah itu akan meningkat dan itu yang akan di kejar, dijelaskan, yang disebut mata rantai itu adalah minapolitan, yang dianalogikan bahwa minapolitan itu pengembangan kawasan berbasis perikanan. Teorinya didalam pembangunan daerah atau wilayah ada namanya pusat-pusat pertumbuhan.“Pembangunan itu kan tidak merata tapi dikosentrasikan kepada beberapa titik, setelah terintegrasi maka bisa berjalan pengembangannya. Dengan minapolitan itu kita harapkan pusat-pusat pertumbuhan wilayah yang memang potensinya perikanan apakah perikanan budidaya atau tangkap, sampai 2014 kita konsentrasikan sekitar 157 kawasan minapolitan tapi tergantung progresnya, tapi jika dalam waktu dekat ini menunjukan signifakan kita bisa expan,” harapnya.

Tidak hanya itu, program lainya yaitu peningkatan SPDN suplai bahan bakar, meski saat ini masih terbatas, dijelaskan baru sekitar ada 248, sementara target sampai 2014 sekitar 400 SPDN, “Kalau itu baik akan kita coba kembangkan, dengan adanya SPDN itu sangat menolong daripada oprasionalisasi perminyakan perikanan, baik itu perikanan tangkap atau perikanan budidaya,” tandasnya.

Pugar : Usaha Garam Rakyat

Menggenjot Produksi Garam

Dalam rangka meningkatkan kesejahteraan bagi masyarakat pesisir, yang masuk dalam Pemberdayaan Ekonomi Masyarakat Pesisir (PEMP), Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) tengah menggenjot program produksi garam, atau yang lebih dikenal dengan nama PUGAR (Pengembangan Usaha Garam Rakyat), Pugar sendiri salah satu program  PNPM Mandiri tahun 2011. Dimana PNPM sendiri terdiri dari Pengembangan Usaha Mina Pedesaan (PUMP) dan Pemberdayaan Usaha Garam Rakyat (Pugar).

Pugar sendiri adalah merupakan program pemberdayaan bagi petambak garam rakyat, dengan total anggaran KKP untuk PNPM Mandiri-KP Tahun 2011 adalah sebesar Rp. 493.047 Milyar. Tujuan dari Pugar sendiri, yaitu untuk membentuk sentra-sentra usaha garam rakyat, lalu memberdayakan dan meningkatkan kemampuan petambak garam rakyat dalam kelompok usaha garam rakyat (KUGR) dan meningkatkan akses terhadap permodalan, pemasaran, informasi, serta IPTEK bagi petambak garam.

Sementara untuk kriteria penentuan lokasi pugar sendiri yaitu, lahan potensial untuk pengembangan usaha garam rakyat, mempunyai aksebilitas yang mudah dijangkau dan peruntukan lahan untuk usaha garam rakyat ditetapkan melalui Surat Penetapan dari Bupati/Walikota. Untuk kriteria penentuan kelompok pugar sendiri ditetapkan yaitu, sudah melakukan usaha garam minimal 1 musim dan jumlah anggota maksimal 10 orang.Dijelaskan oleh Direktur Pemberdayaan Masyarakat Pesisir dan Pengembangan Usaha, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), Ferrianto H.Djais, bahwa pemberdayaan garam rakyat ini ada sekitar 49 lokasi, sementara saat ini yang menjadi sentra ada di 9 lokasi. Dan yang 40 lokasi ini ada tahap-tahapannya. Artinya, tidak secara langsung, dimana untuk ke 40 lokasi ini perlu ditinjau persiapan baik itu infrastruktur, lembaga-lembaganya, dan kelompok-kelompok masyarakatnya.

“Untuk anggarannya kita akan bantu artinya, bagi masyarakat atau kelompok yang modalnya terbatas kita akan bantu, sementara untuk infrastrukturnya kita akan bekerjasama dengan Kementerian Pekerjaan Umum,” kata Ferri, panggilan akrab Ferrianto H.Djais  kepada Indonesia Maritime Magazine.

Disebutkan oleh Ferri bahwa ke 49 lokasi tersebut yaitu, Jawa Barat pengelolaannya di Cirebon dan Indramayu, Jawa Tengah, Brebes, Jepara, Demak, Rembang dan Pati. Jawa Timur ada 11 lokasi, yaitu Tuban, Lamongan, Pasuruan, Gresik, Probolinggo, Kota Surabaya, Pamekasan, Sampang, Sumenep, Kota Pasuruan dan Bangkalan.

“Dari tiga provinsi tersebut kota-kota yang masuk dalam 9 lokasi yang sudah berjalan yaitu, di Jawa Barat, Cirebon dan Indramayu, Jawa Tengah di Rembang dan Pati, di Jawa Timur, Tuban, Pamekasan, Sampang dan Seumenep, sementara satu lagi di Nusa Tenggara Timur di Nagekeo, dengan total area untuk 8 Salt Center Locations sekitar 13.868 hektar,” ujar Ferri.

Terget pencapaiannya sampai 2014, 40 lokasi namun tidak langsung, mungkin sebagian, jika dari 9 lokasi tersebut berhasil, maka akan reflikasi tempat-tempat lain. Pemberdayaan ini dijelaskan oleh Ferri, bukan berdiri sendiri. Dimana KKP akan menyiapkan kawasan usahanya, pasarnya juga harus dibantu. “Diharapkan, 2014 akan berhasil penuh dan untuk garam industri  targetnya 2015 dan 2013 sudah bisa export, asal kebutuhan didalam negeri sendiri sudah terpenuhi,” tegas Ferri optimis.

Pembuatan garam sendiri, kata Ferri sangat unik, dimana pembuatan tersebut tergantung cuaca. Artinya, tidak sembarangan, jika faktor cuca tidak diperhatikan maka jangan harap bisa menghasilkan yang ada malah amblas, dengan curah hujan yang tinggi maka pembuatan garam tersebut tidak akan berhasil. “Mudah-mudahan dengan andalan garam kita bisa mendongkrak pendapatan masyarakat pesisir kita,” tegasnya.
Tidak hanya itu, Ferri menjelaskan untuk pembuatan garam sendiri tengah digenjot dengan pembuatan secara manual, artinya pembuatan dengan cara pemberian serbuk yang dinamakan Ramsol. Ramsol tersebut sebuah serbuk yang dicampur kedalam air, maka secara sendirinya akan mengkristal.

Penulis: Cahaya

Editor: Komarudin


2 Comments

Comments 1 - 2 of 2First« PrevNext »Last
  1. 0

    Setahun yang lalu saya membaca article di koran New York Times mengenai usaha MTA ( Metropolitan Transit Authority) induk perusahaan New York City Transit Authority dalam menanggulangi pembuangan gerbong-gerbong kereta api yang sudah tua juga pembuangan Bus-bus yang sudah tidak terpakai. Kerangka dari gerbong-gerbong kereta api juga kerangka dari Bus-bus dibuang dan ditenggelamkan jauh dari pantai. Menenggelamkan kerangka-kerangka ini dilaut lepas adalah dalam usaha untuk memberikan tempat untuk ikan-ikan dilaut berkembang biak. Jadi boleh dikatakan sebagai “batu koral” buatan.

    Mungkin cara ini dapat kita tiru dengan menenggelamkan kerangka-kerangka kapal-kapal tua. Terutama kapal-kapal tanker. kapal-kapal tua ditarik ke suatu tempat di Banten, dekat wawasan Krakatau Steel. Kapal-kapal tua ini dipereteli. Baja-baja dijual ke Krakatau Steel, peralatan listrik, motor listrik, generator serta peralatan listrik lainnya dikumpulkan dan dipisahkan untuk dimanfaatkan sebagai spare parts kapal, atau kawat-kawat tembaga untuk pembikinan alternator mobil umpamanya. Kerangkanya ditarik dan ditenggelamkan sepanjang pantai Utara Pulau Jawa, sekitar Pulau Bangka dan Belitung. Kerangka yang ditenggelamkan jangan terlalu jauh kelautan lepas, jangan sampai mengganggu jalur-jalur pelayaran. Dengan demikian dapat dengan mudah dicapai oleh penduduk yang bermukim dipantai-pantai, dengan perahu layar untuk menangkap ikan.

    Apakah ini yang dinmaksud sebagai pemberdayaan yang dinantikan.
    =sn=

  2. 0

    You will find interesting closing dates in this article even so don’t know only see each of them center to heart. You can find some validity nevertheless will administer hold opinion until I check out it further. Good article , thanks and now we want more!

Comments 1 - 2 of 2First« PrevNext »Last

Leave a Reply


× five = 5