07:03 am - Monday 21 April 2014

Nelayan NTT Sudah Enggan Melaut

By admin - Wed Aug 04, 8:34 am


KUPANG, POS KUPANG. com – Para nelayan di Nusa Tenggara Timur yang tergabung dalam Aliansi Nelayan Tradisional Laut Timor, mengaku sudah enggan melaut karena sedikit sekali ikan yang berhasil mereka tangkap.

“Sudah hampir delapan bulan ini kami tidak melaut. Ikan kakap merah dan ikan laut dalam yang dulunya mudah didapat di Laut Timor, kini sudah tidak ada lagi,” kata H Mittu, salah seorang nelayan tradisional kepada pers di perkampungan nelayan Oesapa Kupang, Selasa (3/8/2010).

Ketua Aliansi Nelayan Tradisional Laut Timor (Antralamor) H Musatafa menambahkan, kesulitan para nelayan untuk mendapatkan ikan-ikan tersebut mulai timbul setelah sumur minyak Montara di Blok Atlas Barat Laut Timor, meledak pada 21 Agustus 2009.

“Hampir sekitar 3.000 nelayan tradisional yang tergabung dalam Antralamor, sangat merasakan kondisi di perairan pancaledakan tersebut,” ujarnya.

Dikatakan, kini untuk mendapatkan 100 kg ikan, misalnya, membutuhkan waktu berlayar lebih dari seminggu. “Ini sesuatu yang tidak biasa terjadi sebelumnya,” katanya.

Mittu menambahkan, sebelum terjadi pencemaran minyak di Laut Timor, dalam tempo semalam setiap nelayan bisa mendapat ikan kakap merah dan ikan laut dalam sampai 500 kg di wilayah perairan sekitar Laut Timor.

“Sekarang untuk mendapatkan 100 kg saja, membutuhkan waktu sampai lebih dari seminggu. Hasil tangkapan ini sangat tidak seimbang dengan biaya operasional yang kami keluarkan untuk sekali melaut, yakni Rp3 juta,” katanya.

Bogas, salah seorang nelayan lainnya menjelaskan, ikan yang diperoleh sebanyak 100 kg itu jika dijual kepada para distributor ikan di Kota Kupang, hanya mendapat sekitar Rp2 juta dengan hitungan satu kilogram ikan kakap di pasaran Kota Kupang seharga Rp20.000.

“Kalau 500 kg, kami bisa mendapatkan sekitar Rp10 juta. Penghasilan ini sudah bisa menutupi biaya operasional serta kebutuhan rumah tangga, terutama pendidikan anak-anak sekolah. Kalau hanya Rp2 juta, untuk apalagi kami harus melaut,” katanya dalam nada tanya.

Harga ikan kakap merah di pasaran Australia saat ini dijual dengan 7,5 dolar/kg atau sekitar Rp58.000/kg (satu dolar Australia setara dengan Rp8.300) dari perahu kepada para distributor ikan, sedang dari distributor ke pedagang pengecer ikan 11 dolar/kg atau sekitar Rp91.300/kg, sementara dari pengecer ke konsumen mencapai 15 dolar/kg atau sekitar Rp124.500/kg.

Ketika ditemui wartawan di perkampungan nelayan Oesapa Kupang siang itu, tampak sekelompok nelayan, termasuk di antaranya H Mustafa dan Bogas sedang bermain kartu remi untuk menghilangkan stress, karena tidak lagi melaut akibat sulit mendapatkan ikan dalam jumlah banyak seperti dulu lagi.

Sementara H Mittu sedang membersihkan pukat ikan yang biasa dipasang di badan bagan untuk menjaring ikan.

“Saya sudah mendirikan bagan baru di Bangka Belitung untuk mencari usaha baru di sana. Mau bertahan di sini (Kupang), rasanya sudah tidak mungkin lagi, karena ikan sulit untuk didapat,” kata Mittu polos.

“Setelah Idul Fitri saya langsung bekerja di sana (Bangka Belitung), karena ikan sangat banyak. Saya sudah survei dan baru tiba kembali di Kupang dua hari lalu,” katanya menambahkan.

Ismolo, salah seorang nelayan lainnya di Namosain Kupang yang dikonfirmasi secara terpisah mengatakan, ia bersama beberapa orang rekannya terpaksa melakukan upacara adat semacam “memberi makan laut” agar bisa mendapatkan ikan.

“Ikan memang ada yang datang, namun tidak dalam jumlah besar. Padahal, musim ikan itu berlangsung dari Maret sampai Oktober, tetapi sama sekali tidak dalam jumlah yang banyak. Apakah ikan-ikan sudah pada mati atau berpindah ke tempat lain,” katanya, ketus.

Menurut Mustafa, ikan-ikan penghuni Laut Timor seperti kakap merah, sudah mencari lokasi baru di sekitar Laut Arafura setelah meledaknya sumur minyak Montara di Laut Timor pada Agustus 2009.

“Saya mendapat informasi dari teman-teman nelayan asal Bugis yang biasa mencari ikan di Laut Arafura. Mereka mengatakan ikan kakap merah dan ikan laut dalam, banyak terdapat di Laut Arafura, ” ujarnya.

Atas dasar itu, ia berkesimpulan bahwa ikan kakap merah dan ikan laut dalam yang menghuni Laut Timor selama ini, mencari habitat baru di Laut Arafura setelah tercemarnya wilayah perairan Laut Timor akibat meledaknya kilang minyak Montara.

“Para nelayan saat ini memang sudah jarang melaut dan ada yang tidak sama sekali. Bukan karena wilayah perairan NTT sedang dilanda angin kencang dan gelombang besar, tetapi karena ikan di wilayah perairan Laut Timor dan sekitarnya memang sudah menipis jumlahnya,” kata Mustafa sambil berdecak.

Sumber: pos-kupang.com /Rabu, 4 Agustus 2010 | 00:30 WIB

1 Comment

Comments 1 - 1 of 1First« PrevNext »Last
  1. 0

    Appreciate your posting this content. I will be definitely discouraged together with troubled to find important together with reasonable discuss this specific subject. Everyone these days goes to abdominal muscles considerably two extremes with the idea to clarify the thoughts and opinions of which sometimes everyone more in the planet is actually drastically wrong, or even a couple of which everybody yet these people won’t truly are aware of the circumstances. Thank you for an individual’s succinct, applicable information.

Comments 1 - 1 of 1First« PrevNext »Last

Leave a Reply


+ 1 = four